Gajah Bergading Enam
Pahatan batu era Dvaravati dari abad ke-7 yang dikaitkan dengan kisah Chaddanta. Gambar: Photo Dharma from Sadao, Thailand · CC BY 2.0 · sumber
Jauh di Himalaya, di tepi Danau Chaddanta, hidup seekor gajah putih pemimpin delapan ribu gajah. Gadingnya memancarkan cahaya enam warna, dan namanya sama dengan nama danau itu: Chaddanta, yang dalam banyak penuturan berarti si Enam Gading. Ia punya dua istri, Mahasubhadda dan Cullasubhadda.
Suatu hari Chaddanta menggoyang sebatang pohon sala yang sedang berbunga. Dari sisi tempat Mahasubhadda berdiri, gugur serbuk bunga dan daun. Dari sisi Cullasubhadda jatuh ranting kering dan semut merah. Itu hanya kebetulan angin, tetapi Cullasubhadda merasa dipermalukan. Lain waktu, seekor gajah mempersembahkan teratai besar kepada Chaddanta, dan ia memberikannya kepada Mahasubhadda. Luka kecil di hati Cullasubhadda bertambah dalam.
Dendam itu tak pernah ia bicarakan. Ia menyimpannya sampai akhir hayat, dan dengan doa yang penuh kepahitan ia memohon agar lahir kembali sebagai manusia yang bisa membalas. Menurut kisah ini, doanya terkabul. Ia lahir sebagai putri bangsawan dan menjadi Subhadda, permaisuri Raja Benares. Yang lebih aneh, ia masih mengingat kehidupannya yang lalu.
Ratu itu pura-pura sakit dan meminta raja mengumpulkan semua pemburu di negeri. Dari mereka ia memilih seorang bernama Sonuttara, lalu memintanya mengambil gading Chaddanta.
Sonuttara berjalan tujuh tahun, tujuh bulan, dan tujuh hari sebelum sampai. Ia mengamati jalan yang biasa dilewati sang gajah, menggali lubang, dan menutupinya dengan papan. Ia tahu gajah itu menghormati orang suci, sehingga ia mengenakan jubah kuning seorang pertapa. Ketika Chaddanta lewat, anak panah beracun melesat dari dalam lubang.
Gajah itu meraung. Ia mencari sumber rasa sakitnya, menarik si pemburu keluar, dan mengangkat belalainya untuk meremukkannya. Saat itulah matanya menangkap warna jubah kuning. Belalainya berhenti di udara.
“Pakaian ini dipakai orang yang telah melepaskan keinginan,” katanya. “Aku tidak akan menyakiti orang yang memakainya.”
Ia menurunkan orang itu dan bertanya siapa yang menyuruhnya. Sonuttara mengaku: Ratu Subhadda dari Benares menginginkan gadingnya. Chaddanta mengerti seketika siapa ratu itu.
“Sebenarnya yang ia inginkan nyawaku,” katanya pelan. Lalu ia berbaring agar pemburu itu bisa mencapai gadingnya.
Sonuttara memanjat dan mulai menggergaji, tetapi gading itu terlalu keras dan tangannya tak sanggup. Chaddanta, dengan luka beracun dan darah mengalir dari mulutnya, meminta gergaji itu. Ia memegangnya dengan belalainya sendiri dan memotong gadingnya. Ia menyerahkan gading itu kepada pemburu, seraya berdoa semoga kebaikan ini membawanya pada kebijaksanaan. Tak lama ia mengembuskan napas terakhir.
Tujuh hari kemudian, Sonuttara tiba di Benares dan meletakkan gading itu di pangkuan ratu.
“Gajah yang Tuanku benci telah mati, dan dialah yang memotong gading ini dengan belalainya.”
Subhadda memandang gading itu. Bertahun-tahun ia menunggu saat ini. Yang datang kemudian bukan kepuasan. Ia teringat pada suami yang pernah ia cintai, dan pada apa yang telah ia lakukan kepadanya. Duka itu begitu besar hingga jantungnya tak sanggup menahannya. Ia wafat pada hari itu juga.
💖 Pesan Moral
- Dendam tidak memberi kepuasan yang dijanjikan. Ratu Subhadda mendapatkan persis yang ia minta, dan justru itu yang menghancurkannya.
- Luka kecil yang dipendam bisa membesar. Semuanya berawal dari ranting kering dan semut, sesuatu yang bisa selesai dengan satu percakapan.
- Kemuliaan terlihat saat kita punya kuasa untuk membalas. Chaddanta bisa meremukkan pemburunya, tetapi memilih menghormati jubah yang dipakainya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Chaddanta Jataka (Jataka no. 514), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis; bentuk ringkas dari kisah aslinya yang panjang. Nama Chaddanta berarti “bergading enam”, tetapi sebagian teks memahaminya sebagai gading yang memancarkan enam warna.