Bangau Tua dan Kepiting yang Cerdik
Bangau dan kepiting dalam naskah Kalila wa Dimna, Mesir atau Suriah, sekitar 1300–1310. Gambar: Pelukis tak dikenal (Mesir atau Suriah, sekitar 1300–1310) · Public domain · sumber
Di sebuah kolam yang dikelilingi pepohonan, hiduplah banyak ikan, katak, dan seekor kepiting. Di tepi kolam itu tinggal pula seekor bangau tua. Dulu ia pandai menangkap ikan, tetapi kini matanya sudah rabun dan geraknya lamban. Hampir setiap hari ia kelaparan.
Suatu pagi, bangau itu berdiri di tepi kolam dengan wajah murung, tidak berusaha menangkap apa pun. Ikan-ikan yang biasanya bersembunyi menjadi penasaran. “Paman Bangau, mengapa engkau tidak mencari makan hari ini?”
Bangau itu menghela napas panjang. “Untuk apa lagi aku makan? Aku baru saja mendengar kabar buruk. Kemarau panjang akan datang. Kolam ini akan kering, dan kalian semua akan mati. Hatiku sedih memikirkannya.”
Ikan-ikan itu ketakutan. “Lalu apa yang harus kami lakukan?”
“Aku tahu sebuah danau besar di balik bukit. Airnya dalam dan tidak pernah kering. Kalau kalian mau, aku bisa membawa kalian ke sana, satu per satu, dengan paruhku.”
Ikan-ikan itu bersyukur dan berebut ingin diantar lebih dulu. Setiap hari bangau membawa seekor ikan di paruhnya dan terbang menjauh. Tetapi ia tidak membawa ikan-ikan itu ke danau mana pun. Ia membawanya ke sebuah batu besar di balik pepohonan, lalu memakannya di sana. Setelah kenyang, ia kembali ke kolam dan berkata, “Teman kalian sudah berenang dengan gembira di danau baru.”
Hari demi hari, tulang-tulang ikan menumpuk di atas batu itu, dan bangau tua itu pun semakin gemuk.
Suatu hari, kepiting berkata, “Paman Bangau, aku juga ingin pindah ke danau itu. Bawalah aku.” Bangau itu tergiur. Ia sudah lama tidak makan daging kepiting. Tetapi kepiting tidak bisa dibawa dengan paruh. “Bagaimana kalau aku berpegangan di lehermu dengan capitku?” usul kepiting. Bangau setuju.
Mereka pun terbang. Kepiting memperhatikan ke bawah dan bertanya-tanya, karena tidak ada danau yang terlihat. Lalu ia melihat batu besar itu, penuh dengan tumpukan tulang ikan. Seketika ia mengerti segalanya.
“Paman Bangau, di mana danau itu?” tanya kepiting dengan suara tenang.
Bangau tertawa. “Danau? Lihatlah ke bawah. Itulah ‘danau’ tempat teman-temanmu berada. Sebentar lagi kau akan menyusul mereka.”
Tetapi kepiting sudah bersiap. Ia mengeratkan capitnya di leher bangau sekuat tenaga. Bangau itu meronta, tercekik, dan jatuh ke tanah. Ia tidak pernah bangun lagi.
Kepiting itu lalu berjalan pelan-pelan kembali ke kolam dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ikan-ikan yang tersisa. Sejak hari itu, mereka belajar untuk tidak lagi mudah percaya pada kabar yang menakutkan dan janji yang terlalu manis.
💖 Pesan Moral
- Waspadalah terhadap orang yang menakut-nakuti lalu menawarkan jalan keluar yang menguntungkan dirinya sendiri.
- Periksalah kebenaran sebuah kabar sebelum menyerahkan nasib kita kepada orang lain.
- Tipu daya pada akhirnya akan berbalik kepada orang yang melakukannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel dalam Buku Pertama Panchatantra dan Baka Jataka (Jataka no. 38). Kisah ini juga dikenal dalam Kalila wa Dimna dan fabel-fabel La Fontaine.