Toar dan Lumimuut
Patung Toar dan Lumimuut di Bukit Kasih, Minahasa, pengingat leluhur orang Minahasa. Gambar: Sakurai Midori Β· CC BY 2.5 Β· sumber
Orang Minahasa mengenang masa ketika tanah di ujung utara Sulawesi masih sunyi. Belum ada kampung, belum ada ladang, belum ada suara orang memanggil anaknya pulang. Yang ada hanya hutan, gunung, dan laut, serta dua perempuan: Karema yang bijak dan Lumimuut, putrinya.
Keduanya hidup berdua dalam waktu yang lama. Karema mengajari putrinya membaca tanda-tanda alam: arah angin, musim buah, dan jalan air di lereng. Suatu hari Karema menyuruh Lumimuut berdiri menghadap angin barat. Dari situlah, menurut penuturan orang tua-tua, Lumimuut mengandung, lalu melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Toar.
Toar tumbuh menjadi anak yang kuat dan pandai. Ia belajar berburu, membuat jerat, dan menghafal sumber air. Namun Karema gelisah melihat tanah yang begitu luas dihuni oleh tiga orang saja. Kalau mereka tetap tinggal di satu tempat, siapa yang akan meneruskan kehidupan?
Ketika Toar sudah dewasa, Karema memanggil keduanya. Di tangannya ada dua batang tongkat dari pohon yang berbeda, dipotong sama panjang.
“Bawalah ini,” katanya. “Lumimuut, berjalanlah ke satu arah. Toar, berjalanlah ke arah yang lain. Kelilingilah negeri ini. Kalau suatu hari kalian bertemu seseorang dan tongkatnya sama panjang dengan tongkatmu, berarti ia masih keluargamu, dan kau harus berjalan lagi. Kalau panjangnya berbeda, ia bukan orang yang pernah kau kenal, dan kalian boleh hidup bersama.”
Mereka berpisah. Lumimuut menyusuri pantai dan muara, sedangkan Toar mendaki bukit dan menyeberangi lembah. Musim berganti entah berapa kali. Rambut Lumimuut mulai berubah, wajah Toar makin keras oleh matahari. Tak seorang pun dari mereka tahu bahwa tongkat di tangan Toar diam-diam terus tumbuh, sementara tongkat Lumimuut tetap seperti sediakala.
Bertahun-tahun kemudian, di suatu tempat yang jauh dari rumah lama mereka, dua pengembara itu berpapasan. Keduanya sudah pangling. Masing-masing hanya melihat orang asing yang lelah oleh perjalanan panjang, dan masing-masing ingat pesan Karema. Mereka menegakkan tongkat berdampingan.
Tongkat yang satu jauh lebih panjang.
Maka keduanya tinggal bersama. Dari mereka lahir anak-anak, dan anak-anak itu melahirkan cucu. Kampung pertama berdiri, ladang pertama dibuka. Ketika keturunan mereka makin banyak, tanah dibagi supaya setiap kelompok punya wilayah. Orang Minahasa mengenang pembagian itu di Watu Pinawetengan, batu besar di dataran tinggi Tompaso yang masih bisa dikunjungi sampai sekarang.
Kini wajah Toar dan Lumimuut dipahat pada tebing Bukit Kasih di Kanonang. Setiap orang Minahasa yang menyebut dirinya keturunan mereka seakan berkata: kita berasal dari perjalanan yang sama.
π Pesan Moral
- Sebuah masyarakat lahir dari keberanian berpisah. Karema melepas orang yang dicintainya supaya kehidupan bisa berlanjut, walaupun ia tahu perjalanan itu panjang.
- Waktu mengubah orang, sering tanpa disadari. Seperti tongkat yang tumbuh diam-diam, kita perlu sesekali berhenti dan melihat sudah sejauh apa kita berubah.
- Ingatan akan asal-usul menyatukan. Orang yang berbeda kampung bisa merasa bersaudara ketika mengingat nenek moyang yang sama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari mitos asal-usul orang Minahasa, Sulawesi Utara. Kisah ini punya banyak versi; yang dituturkan di sini adalah salah satu versi yang memuat ujian tongkat.