Rubah Meminjam Wibawa Harimau (狐假虎威)
Harimau dalam lukisan gantung Dinasti Yuan. Wibawa sang raja hutan inilah yang "dipinjam" si rubah. Gambar: Pelukis anonim, Dinasti Yuan · CC0 · sumber
Di sebuah hutan lebat, seekor harimau sedang berburu mencari makan. Perutnya keroncongan. Tiba-tiba ia melihat seekor rubah lewat, dan dengan sekali terkam, rubah itu sudah berada di bawah cakarnya.
Rubah itu tahu nyawanya tinggal hitungan detik. Tetapi alih-alih memohon ampun, ia justru mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Berani-beraninya kau memakanku!” serunya. “Tahukah kau siapa aku? Kaisar Langit sendiri telah mengangkatku menjadi raja semua binatang. Kalau kau memakanku, kau melawan perintah Kaisar Langit, dan hukumannya pasti berat!”
Harimau tertegun. Cakarnya sedikit mengendur. Rubah kecil ini, raja semua binatang?
Melihat harimau ragu, rubah melanjutkan dengan lebih yakin. “Kalau kau tidak percaya, mari kita buktikan. Aku akan berjalan di depan, dan kau ikuti aku dari belakang. Perhatikan baik-baik apakah ada binatang yang berani tidak lari ketika melihatku.”
Harimau berpikir sejenak. Tidak ada ruginya mencoba. Ia pun melepaskan rubah itu dan berjalan mengikutinya dari belakang.
Rubah berjalan di depan dengan langkah pongah, ekornya tegak, kepalanya terangkat. Mereka melewati padang rumput, tempat sekawanan rusa sedang merumput. Begitu melihat mereka, rusa-rusa itu langsung lari tunggang langgang. Mereka melewati sungai, dan babi hutan yang sedang minum segera kabur ke semak-semak. Kelinci, kijang, dan monyet pun berhamburan menyelamatkan diri.
Harimau terheran-heran. Ternyata benar, semua binatang takut kepada rubah itu! Ia tidak menyadari bahwa yang membuat mereka lari ketakutan bukanlah si rubah, melainkan dirinya sendiri yang berjalan tepat di belakangnya.
Harimau pun membiarkan rubah pergi, sementara rubah tersenyum puas dalam hati.
Kisah ini disampaikan oleh seorang menteri bernama Jiang Yi kepada Raja Xuan dari negeri Chu. Sang raja heran mengapa negeri-negeri di utara begitu takut kepada panglimanya, Zhao Xixu. Jiang Yi menjelaskan dengan perumpamaan ini: yang sebenarnya ditakuti negeri-negeri itu bukanlah sang panglima, melainkan pasukan besar milik raja yang berada di belakangnya, sama seperti binatang-binatang yang takut kepada harimau, bukan kepada rubah.
Dari kisah inilah lahir peribahasa 狐假虎威 (hú jiǎ hǔ wēi), “rubah meminjam wibawa harimau”. Peribahasa ini dipakai untuk orang yang bersikap sombong dan menakut-nakuti orang lain dengan memanfaatkan kekuasaan atau nama besar orang lain, padahal dirinya sendiri tidak punya kekuatan apa pun.
Kita mungkin pernah bertemu “rubah” seperti ini: orang yang suka menyebut-nyebut nama atasan atau kenalan pejabat agar ditakuti. Atau mungkin, tanpa sadar, kita sendiri pernah melakukannya.
💖 Pesan Moral
- Wibawa yang dipinjam bukanlah wibawa sejati. Hormat yang tulus datang dari karakter dan kemampuan sendiri.
- Jangan mudah terkecoh oleh penampilan. Lihatlah siapa yang sebenarnya berdiri di belakang seseorang.
- Bagi pemimpin: waspadai orang yang memakai namamu untuk menakut-nakuti orang lain.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhan Guo Ce (Siasat Negara-Negara Berperang), bagian “Chu Ce”, perumpamaan Jiang Yi kepada Raja Xuan dari Chu, asal-usul peribahasa 狐假虎威.