Hua Mulan Menggantikan Sang Ayah
Mulan dengan busur dan tabung panah, lukisan sutra Tiongkok abad ke-18. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Bunyi alat tenun biasanya terdengar dari kamar itu sampai malam. Hari itu yang terdengar hanya helaan napas. Mulan duduk di depan tenunannya dan tangannya tidak bergerak.
Ibunya bertanya siapa yang sedang ia pikirkan. Mulan menjawab bahwa ia tidak sedang memikirkan siapa pun. Semalam ia melihat surat panggilan tentara. Khan sedang mengerahkan pasukan besar, dan dua belas gulungan daftar itu semuanya memuat nama ayahnya.
Ayahnya sudah tua. Ia tidak punya putra dewasa, dan adik laki-laki Mulan masih kecil. Mulan tahu apa yang akan terjadi jika lelaki tua itu berangkat. Maka sebelum ada yang sempat melarang, ia mengambil keputusan.
“Aku akan membeli pelana dan kuda. Aku akan pergi menggantikan Ayah.”
Ia pergi ke empat pasar. Di pasar timur ia membeli kuda yang bagus, di pasar barat pelana, di pasar selatan tali kekang, di pasar utara cambuk panjang. Ia mengenakan pakaian lelaki dan pergi sebelum fajar.
Malam pertama ia berkemah di tepi Sungai Kuning. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia tidak mendengar suara ayah dan ibunya memanggil, hanya deru air. Beberapa hari kemudian ia sampai di Gunung Hitam, dan yang terdengar hanyalah ringkik kuda perang di tanah asing.
Ia berperang ribuan li jauhnya, melintasi gunung dan celah seperti terbang. Angin dingin membawa bunyi tabuh ronda, dan cahaya bulan musim dingin memantul di baju besinya. Tahun berganti. Banyak jenderal gugur. Mulan tetap hidup dan terus maju, dan tidak satu pun rekannya tahu siapa dia sebenarnya.
Setelah bertahun-tahun, pasukan itu pulang dengan kemenangan. Sang Kaisar menerima para pahlawan di balairung, membagi hadiah berlimpah, dan menawarkan jabatan tinggi kepada Mulan.
Mulan menolak semuanya. Ia hanya meminta seekor unta yang kuat untuk membawanya kembali ke kampung halaman.
Ketika kabar kepulangannya sampai, orang tuanya yang kini renta berjalan saling menopang sampai ke luar kota. Kakak perempuannya berdandan menyambut. Adik laki-lakinya, yang sudah besar, menyembelih babi dan domba untuk pesta.
Mulan masuk ke kamarnya yang lama. Ia duduk di ranjangnya, menanggalkan baju perang, mengenakan pakaian lamanya, menata rambut di depan cermin, lalu keluar menemui rekan-rekan seperjuangannya.
Mereka terpaku. Bertahun-tahun mereka berjalan, makan, dan berperang bersamanya, tanpa pernah menduga bahwa ia seorang perempuan.
Balada itu ditutup dengan gambaran kelinci: jantan dan betina sulit dibedakan saat berlari berdampingan. Siapa bisa menebak yang mana ketika keduanya berlari sekencang-kencangnya?
💖 Pesan Moral
- Keberanian sering lahir dari cinta pada keluarga. Mulan tidak mencari kemuliaan. Ia hanya tidak mau ayahnya yang tua pergi berperang.
- Kemampuan tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Bertahun-tahun di medan perang membuktikannya tanpa perlu ada pidato.
- Tahu kapan pulang adalah kebijaksanaan. Di puncak kejayaan, Mulan memilih rumah daripada jabatan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Balada Mulan, puisi rakyat Tiongkok dari masa Dinasti Utara. Nama marga Hua baru melekat pada tokoh ini dalam karya-karya yang lebih kemudian.