Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Burung, Monyet, dan Gajah: Siapa yang Tertua?

3 menit baca

Lukisan dinding biara di Tawang, India, menampilkan versi Tibet dari kisah ini dengan tambahan seekor kelinci. Gambar: Kingshuk Mondal · CC BY-SA 4.0 · sumber

Tiga sahabat tinggal di dekat sebatang pohon beringin raksasa di kaki Himalaya: seekor gajah, seekor monyet, dan seekor burung tittira, sebangsa puyuh yang gemar berjalan di tanah. Mereka hidup bertetangga, tetapi tidak rukun. Tak ada yang mau mendengar yang lain. Gajah merasa paling besar, monyet merasa paling pintar, dan burung kecil itu sering tak dianggap sama sekali. Setiap urusan kecil berakhir dengan saling tak peduli.

Suatu hari mereka bertiga duduk di bawah beringin itu dan mulai merasa keadaan seperti ini tidak pantas diteruskan.

“Kita hidup seperti orang tanpa aturan,” kata salah satunya. “Bagaimana kalau kita cari siapa yang paling tua di antara kita? Yang paling tua akan kita hormati, dan nasihatnya kita turuti.”

Semua setuju. Masalahnya, tak seorang pun tahu tanggal lahirnya. Mereka memandang berkeliling, lalu mata mereka berhenti pada pohon di atas kepala mereka. Pohon itulah yang akan menjadi saksi.

Burung dan monyet bertanya lebih dulu kepada gajah, “Sahabat, seberapa besar beringin ini ketika pertama kali kau melihatnya?”

Gajah mengibaskan telinganya dengan bangga.

“Waktu aku masih kecil, pohon ini cuma semak. Aku biasa berjalan di atasnya, dan pucuknya yang paling tinggi hanya menyentuh perutku.”

Mereka mengangguk. Itu sudah lama sekali. Giliran monyet ditanya. Ia menggaruk dagu, lalu tersenyum.

“Semasa aku masih bayi, aku cukup duduk di tanah dan menjulurkan leher, lalu kumakan pucuk paling atas pohon ini. Sekecil itulah ia ketika aku mengenalnya.”

Gajah terdiam. Pohon yang menjangkau perutnya ternyata pernah lebih pendek daripada leher monyet yang sedang duduk. Berarti monyet lebih tua.

Kini keduanya menoleh ke burung kecil itu. Terus terang, tak banyak yang mereka harapkan darinya.

“Dahulu ada sebatang beringin besar di tempat yang jauh dari sini,” kata burung tittira dengan tenang. “Aku memakan buahnya, lalu terbang kemari dan membuang kotoran di tanah ini. Dari biji dalam kotoran itulah pohon ini tumbuh. Aku sudah mengenalnya sebelum ia lahir.”

Sejenak tak ada yang bersuara. Lalu gajah dan monyet menundukkan kepala kepada makhluk yang paling kecil di antara mereka.

“Kau yang tertua, sahabat. Mulai hari ini kami akan menghormatimu dan mendengar nasihatmu.”

Burung tittira menerima kehormatan itu dengan tidak berlebihan. Ia menasihati kedua sahabatnya agar hidup dengan benar, dan sejak itu mereka bertiga rukun sampai akhir hayat.

Menurut kitab Jataka, Buddha menuturkan kisah ini ketika mendengar bahwa Sariputta, murid utamanya yang sangat dihormati, terpaksa bermalam di bawah pohon karena biksu-biksu muda sudah mengambil semua tempat menginap. Bila tiga ekor hewan saja bisa belajar saling menghormati, kata Buddha, apalagi orang-orang yang telah memilih jalan kebaikan.

💖 Pesan Moral

  • Tubuh besar tidak sama dengan senioritas. Yang paling kecil ternyata yang paling lama mengenal tempat itu.
  • Kerukunan butuh tata krama. Tiga sahabat itu baru hidup damai setelah sepakat siapa yang didengar.
  • Selesaikan perselisihan dengan bukti. Mereka tidak berdebat soal siapa yang hebat; mereka bertanya kepada pohon yang bisa dilihat bersama.
  • Hormati orang tua dan yang lebih dulu berjasa. Tempat yang nyaman kita pakai hari ini sering dirintis oleh mereka.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Tittira Jataka (Jataka no. 37), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.