Glooskap dan Bayi Wasis
Kano kulit kayu birch buatan orang Wabanaki, kelompok bangsa yang juga mencakup Penobscot, penutur kisah ini. Gambar: Paul VanDerWerf from Brunswick, Maine, USA · CC BY 2.0 · sumber
Glooskap adalah penguasa manusia dan binatang dalam cerita-cerita orang Penobscot. Tidak ada yang tak pernah ia kalahkan. Ia menumpas Kewahqu’, para raksasa dan penyihir. Ia menundukkan m’teoulin, para ahli sihir. Ia mengalahkan Pamola, roh jahat udara malam, berikut segala hantu, tukang teluh, setan, dan makhluk pemakan manusia yang berkeliaran di hutan-hutan.
Suatu hari, ketika semua musuhnya sudah tumbang, ia duduk merenungkan apa saja yang telah ia kerjakan. Ia mulai bertanya-tanya, apakah pekerjaannya sudah selesai? Pertanyaan itu ia sampaikan kepada seorang perempuan.
“Jangan terburu-buru, Tuan,” jawab perempuan itu. “Masih ada satu yang belum pernah dikalahkan siapa pun, dan yang akan tetap tak terkalahkan sampai akhir zaman.”
“Siapa dia?” tanya Glooskap, duduk lebih tegak.
“Dia Wasis yang perkasa,” katanya. “Itu dia, sedang duduk di sana. Kuperingatkan, kalau kamu mengganggunya, kamu akan mendapat kesulitan besar.”
Glooskap menoleh. Wasis adalah bayi. Ia sedang duduk di lantai sambil mengisap sepotong gula mapel, sangat puas dengan hidupnya, dan tidak mengusik siapa pun.
Perlu diketahui bahwa sang penguasa manusia dan binatang itu belum pernah menikah dan belum pernah punya anak. Ia sama sekali tidak tahu cara mengurus anak kecil. Justru karena itu, seperti orang-orang lain yang senasib, ia yakin betul bahwa ia tahu segalanya tentang urusan ini.
Ia berpaling kepada si bayi dengan senyum yang paling memikat, lalu menyuruhnya datang.
Bayi itu balas tersenyum, tetapi tidak bergeser sejengkal pun.
Glooskap memaniskan suaranya sampai merdu seperti burung musim panas. Sia-sia. Wasis tetap duduk dan terus mengisap gula mapelnya.
Maka sang penguasa mengerutkan kening. Dengan suara yang pernah membuat para raksasa gemetar, ia memerintahkan Wasis merangkak kepadanya saat itu juga.
Wasis langsung menangis dan menjerit sekeras-kerasnya. Namun ia tetap tidak bergerak.
Tinggal satu jalan lagi. Glooskap mengeluarkan ilmu gaibnya. Ia merapalkan mantra-mantra yang paling mengerikan. Ia melantunkan nyanyian yang bisa membangkitkan orang mati dan membuat para setan lari ketakutan.
Wasis duduk memandanginya dengan kagum. Pertunjukan itu kelihatannya sangat menarik baginya. Akan tetapi, ia tetap tidak bergeser seujung rambut pun.
Akhirnya, dengan putus asa, Glooskap menyerah.
Wasis, yang duduk di lantai tertimpa cahaya matahari, berkata, “Goo! Goo!” lalu berkokok gembira.
Sampai hari ini, kata orang Penobscot, bila kalian melihat bayi yang sedang senang berceloteh goo, goo tanpa seorang pun tahu sebabnya, ketahuilah bahwa ia sedang mengingat hari ketika ia mengalahkan Sang Penguasa yang telah menaklukkan seluruh dunia. Di antara semua makhluk sejak awal waktu, bayi adalah satu-satunya yang benar-benar tak terkalahkan.
💖 Pesan Moral
- Kekuatan tidak berlaku di semua tempat. Cara yang menaklukkan raksasa belum tentu berguna di depan seorang bayi.
- Orang yang belum pernah mencoba sering paling yakin. Bertanyalah dulu kepada mereka yang setiap hari mengurus anak.
- Bagi para orang tua: kalau hari ini kalian kalah oleh si kecil, kalian berada dalam rombongan yang terhormat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Penobscot yang dicatat Charles G. Leland dalam The Algonquin Legends of New England (1884), dari penuturan Maria Saksis.