Kong Rong Memilih Pir Terkecil
Buah pir, yang dalam kisah Kong Rong menjadi pelajaran tentang tahu diri. Gambar: PumpkinSky · CC BY-SA 4.0 · sumber
Hampir setiap anak Tiongkok mengenal satu baris dalam Kitab Tiga Aksara, buku pelajaran lama yang dihafalkan selama berabad-abad: Rong, pada usia empat tahun, tahu mengalah soal pir. Baris pendek itu merujuk pada seorang anak dari abad ke-2 bernama Kong Rong.
Kong Rong lahir tahun 153 di Qufu, kampung halaman Konfusius, dan tercatat sebagai keturunan sang guru besar pada generasi kedua puluh. Ia anak keenam dari tujuh bersaudara. Peristiwa buah pir itu tidak terdapat dalam tubuh utama biografinya, tetapi dalam catatan kaki yang ditambahkan Li Xian pada Hou Han Shu, mengutip sebuah catatan keluarganya.
Catatan itu sangat singkat. Ketika berumur empat tahun, ia makan pir bersama kakak-kakaknya, dan ia selalu mengambil yang paling kecil. Orang dewasa heran dan bertanya mengapa. Jawaban anak itu tercatat: ia masih kecil, jadi menurut aturan sepatutnya ia mengambil yang kecil. Keluarga besarnya menganggap anak ini luar biasa.
Catatan itu tidak menyebut adanya suruhan atau hadiah. Bagi seorang anak empat tahun, buah yang lebih besar berarti lebih banyak rasa manis. Yang membuat orang terkesan adalah bahwa ia tidak memandangnya sebagai pengorbanan, melainkan sebagai sesuatu yang memang semestinya.
Sikap yang sama muncul lagi ketika ia remaja. Pada usia enam belas tahun, seorang buronan bernama Zhang Jian, sahabat kakaknya Kong Bao, datang mencari perlindungan. Kong Bao sedang pergi, dan Kong Rong menerima orang itu dan menyembunyikannya. Ketika perkara itu terbongkar, Zhang Jian lolos, tetapi keluarga Kong ditangkap. Hou Han Shu mencatat sebuah adegan yang jarang ada: Kong Rong, kakaknya, dan ibunya saling berebut untuk menanggung kesalahan. Yang tadinya mengalah soal buah, kini tidak mau mengalah soal hukuman.
Pada usia sepuluh tahun pula ia sudah dikenal tajam lidah. Ia pernah datang ke rumah pejabat terkenal Li Ying yang sulit ditemui, dan mengaku sebagai kerabat. Saat ditanya hubungan apa, ia menjawab bahwa leluhurnya Konfusius pernah berguru pada Laozi, yang bermarga sama dengan Li Ying. Tamu-tamu terkagum.
Kong Rong tumbuh menjadi pejabat dan sastrawan terkemuka, satu dari Tujuh Sastrawan Masa Jian’an. Lidahnya yang tajam itu pula yang kelak membawa kesulitan. Ia berkali-kali mengejek dan mengkritik Cao Cao, penguasa saat itu, sampai akhirnya dihukum mati bersama keluarganya pada tahun 208.
Akhir hidupnya tragis, tetapi yang dihafalkan anak-anak tetap satu baris itu, tentang sebuah pir kecil di tangan anak berumur empat tahun.
💖 Pesan Moral
- Mengalah tidak harus terasa seperti kalah. Bagi Kong Rong kecil, mengambil yang kecil adalah hal yang wajar.
- Tata krama paling kuat kalau muncul tanpa diawasi. Jawaban polos seorang anak diingat orang selama hampir dua ribu tahun.
- Keluarga yang baik berebut tanggung jawab, bukan berebut bagian. Kisah buah pir dan kisah di pengadilan menunjukkan watak yang sama.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Kong Rong, yaitu biografinya dalam Hou Han Shu beserta catatan Li Xian yang mengutip riwayat keluarganya, serta Kitab Tiga Aksara.