Monyet dan Baji Tukang Kayu
Seekor lutung abu-abu India duduk di bangku sambil mengamati sekitarnya. Gambar: Subhrajyoti07 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah hutan kecil dekat kota, seorang saudagar sedang membangun kuil. Tiang-tiang sudah berdiri, atap mulai terpasang, dan tumpukan kayu tersebar di mana-mana. Para pekerja datang sejak pagi, dan setiap tengah hari mereka meletakkan alat, lalu berjalan ke kota untuk makan siang.
Pada suatu siang, tak lama setelah tempat itu sepi, sekawanan monyet datang dari pepohonan. Bagi mereka, bangunan setengah jadi itu seperti taman bermain yang baru dibuka. Ada yang berayun di kasau, ada yang berlari di atas atap, ada yang berkejaran di antara tumpukan papan.
Di tengah halaman tergeletak sebatang kayu anjana yang sangat besar. Seorang tukang sudah mulai membelahnya dari ujung atas, tetapi pekerjaannya baru setengah jalan. Supaya belahan itu tidak merapat kembali, ia menancapkan sebuah baji dari kayu akasia di antara kedua sisinya.
Satu monyet memisahkan diri dari teman-temannya. Baji itu menarik perhatiannya. Ia memanjat batang kayu, lalu duduk mengangkang tepat di atas celah yang menganga.
“Siapa yang menancapkan benda ini di tempat seaneh ini?” pikirnya.
Tak ada yang menyuruhnya menyentuh baji itu. Tak ada makanan di sana. Baji itu pun tidak mengganggunya sedikit pun. Namun tangannya sudah terlanjur gatal.
Ia menggenggam baji itu dengan kedua tangan, lalu menggoyangnya ke kiri dan ke kanan. Baji itu bergeser sedikit. Si monyet makin bersemangat. Ia menarik lebih keras, menggoyang lebih cepat, dengan wajah puas seperti tukang yang sedang menyelesaikan pekerjaan penting.
Ia tidak sadar di mana ia sedang duduk.
Sekali tarikan terakhir, baji itu terlepas dari tempatnya. Kedua belahan kayu raksasa itu menutup dengan keras, dan segala yang berada di celahnya ikut terjepit. Apa yang terjadi pada si monyet kiranya tak perlu diceritakan panjang-panjang.
Dalam Panchatantra, kisah singkat ini dituturkan oleh Karataka, seekor serigala, kepada saudaranya, Damanaka. Damanaka saat itu berniat ikut campur urusan sang raja hutan, seekor singa yang sedang gelisah. Keduanya hanyalah pembantu rendahan, tetapi Damanaka ingin mencari tahu penyebab kegelisahan sang raja dan mengambil keuntungan darinya.
“Untuk apa kita mengurus hal yang bukan urusan kita?” kata Karataka. “Ingat si monyet yang mencabut baji. Kita sudah cukup makan dari sisa buruan raja.”
Damanaka tidak mau mendengar. Ia punya cita-cita yang lebih tinggi daripada sekadar sisa makanan, dan dari kecerdikannya itulah kelak lahir banyak kekacauan di hutan tersebut.
💖 Pesan Moral
- Tidak semua yang menarik harus disentuh. Rasa ingin tahu itu baik, selama kita tahu apa yang sedang kita pegang dan apa akibatnya.
- Perhatikan posisi diri sebelum bertindak. Si monyet memperhatikan bajinya, tetapi lupa memperhatikan tempat duduknya.
- Pekerjaan orang lain sering punya alasan yang tidak kita ketahui. Sesuatu yang tampak aneh di mata kita bisa jadi justru sedang menahan sesuatu agar tetap aman.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Monyet Pencabut Baji” dalam Panchatantra, Buku I (Perpecahan Sahabat).