Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Buya Hamka dan Penjara yang Melahirkan Tafsir

2 menit baca

Buya Hamka dalam cetakan foto lama. Gambar: Rahmatdenas · CC BY-SA 4.0 · sumber

Pada 27 Januari 1964, yang bertepatan dengan bulan Ramadan, Abdul Malik Karim Amrullah dibawa dari rumahnya untuk ditahan. Umurnya hampir 56 tahun. Orang mengenalnya sebagai Buya Hamka: ulama, sastrawan, penulis novel, dan imam Masjid Agung Al-Azhar di Kebayoran Baru. Ia dituduh terlibat gerakan subversif, bahkan menurut sebagian catatan dituduh berkomplot melawan Presiden Sukarno. Tuduhan itu tidak pernah dibuktikan di pengadilan.

Hamka lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, tepi Danau Maninjau. Ia tidak pernah menamatkan sekolah agamanya dan pada usia 16 tahun sudah merantau ke Jawa. Sebagian besar ilmunya ia kumpulkan sendiri. Saat itu pengaruh komunisme sedang menguat di Indonesia, Masyumi sudah dibubarkan, dan Hamka menjadi sasaran serangan organisasi kebudayaan Lekra.

Sebelum ditahan, ia sudah memulai tafsir Al-Qur’an yang berakar dari pengajiannya di Masjid Al-Azhar. Di tahanan pekerjaan itu ia lanjutkan. Ketika jatuh sakit ia dipindahkan ke Rumah Sakit Persahabatan, dan di sana pun ia terus menulis.

Menurut pengakuannya sendiri, seandainya tidak ditahan, tafsir tiga puluh juz tersebut mungkin takkan pernah selesai. Di balik tembok tahanan ia memperoleh waktu panjang yang tidak ia cari.

Ia bebas pada Mei 1966, menjelang berakhirnya kekuasaan Sukarno. Lama penahanannya disebut sekitar dua tahun empat bulan, ada pula sumber yang menyebut dua tahun tujuh bulan. Tafsir Al-Azhar kemudian diterbitkan dan menjadi salah satu tafsir berbahasa Indonesia yang paling luas dibaca.

Bagian yang paling sering dikenang terjadi empat tahun kemudian. Sukarno, orang yang pada masa kekuasaannya Hamka dipenjara, wafat pada 21 Juni 1970 di Jakarta, masih dalam status tahanan. Melalui utusan yang datang ke rumah Hamka, tersampaikan pesan bahwa Bung Karno berwasiat agar Hamka bersedia menjadi imam salat jenazahnya. Hamka menerimanya dan berangkat ke Wisma Yaso, tempat jenazah disemayamkan. Banyak orang kagum sekaligus bertanya-tanya apakah ia tak menyimpan dendam.

Hamka wafat pada 24 Juli 1981 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

💖 Pesan Moral

  • Keadaan buruk tidak selalu menentukan hasil akhir. Hamka memakai sel tahanan untuk menyelesaikan karya terbesarnya.
  • Karya besar butuh waktu yang tak terganggu. Kadang kita baru sadar betapa banyak waktu tersita ketika semuanya direnggut.
  • Memaafkan adalah tindakan, bukan hanya perasaan. Berdiri menyalatkan orang yang pernah menyebabkan kita dipenjara jauh lebih sulit daripada mengucapkan kata maaf.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Buya Hamka. Lama penahanan dan rincian pesan Sukarno berbeda di antara sumber; pesan itu tercatat lewat riwayat keluarga dan media Indonesia.