Rabi’ah, Obor, dan Seember Air
Api obor, salah satu dari dua benda yang dibawa Rabi'ah dalam kisah ini. Gambar: Andreas Fink (andreas-fink@gmx.de) · CC BY-SA 2.5 · sumber
Basrah pada abad kedelapan adalah kota yang riuh oleh pedagang, ulama, dan orang-orang yang berdebat tentang surga. Di kota itulah tinggal seorang perempuan tua yang dahulu pernah menjadi budak dan kini hidup dalam kesederhanaan yang nyaris tak masuk akal. Namanya Rabi’ah al-Adawiyah. Tamu-tamu terhormat datang kepadanya meminta nasihat, dan banyak yang pulang dengan pikiran tak tenang.
Suatu hari, begitu tutur para pengisah, orang-orang Basrah melihat pemandangan yang ganjil. Rabi’ah berjalan bergegas di tengah kota. Tangan kanannya memegang obor yang menyala. Tangan kirinya menjinjing seember air yang berkecipak setiap kali ia melangkah.
Orang-orang berhenti berdagang. Anak-anak mengikutinya dari belakang. Akhirnya seseorang memberanikan diri menghadang.
“Wahai Rabi’ah, hendak ke mana engkau? Untuk apa obor dan air itu?”
Perempuan itu menjawab tanpa memperlambat langkah.
“Aku hendak membakar surga dengan api ini, dan memadamkan neraka dengan air ini.”
Kerumunan itu tersentak. Ada yang beristigfar. Ada yang menyangka usia tua sudah merusak akalnya. Lalu Rabi’ah menoleh dan melanjutkan, dengan suara yang tak meninggi sedikit pun.
“Supaya orang tidak lagi menyembah Tuhan karena takut pada neraka dan tidak pula karena mengharap surga. Biarlah mereka menyembah-Nya semata karena Dia.”
Para pedagang di pasar itu sehari-hari menimbang barang dan menghitung laba. Mereka tahu benar apa arti jual beli, dan tiba-tiba mereka bertanya dalam hati apakah salat mereka juga sejenis perniagaan: sekian rakaat ditukar dengan sekian kenikmatan, sekian puasa untuk menebus sekian dosa.
Doa yang dinisbahkan kepadanya, yang dicatat Fariduddin Attar berabad-abad kemudian, berbunyi serupa. Ya Tuhan, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkan aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu demi Engkau sendiri, jangan Kau sembunyikan dari aku keindahan-Mu yang abadi.
Obor itu tentu tidak membakar apa pun, dan airnya barangkali habis tumpah di jalan. Hanya saja, orang-orang Basrah pulang hari itu dengan pertanyaan yang lebih panas daripada apinya.
💖 Pesan Moral
- Periksa alasan di balik kebaikanmu. Perbuatan yang sama bisa lahir dari cinta, bisa juga dari hitung-hitungan.
- Cinta yang tulus tidak menagih upah. Orang tua yang menyayangi anaknya tidak menyimpan daftar utang budi.
- Kadang perlu sesuatu yang mengejutkan agar orang berhenti sejenak dan memikirkan kebiasaan yang sudah terlalu lama dijalani.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi kisah dalam tradisi sufi seputar Rabi’ah al-Adawiyah dari Basrah. Kesejarahan adegannya tidak dapat dipastikan; doanya tercatat dalam Tadhkirat al-Awliya karya Attar.