Harun ar-Rasyid dan Seteguk Air
Harun ar-Rasyid dalam lukisan Eropa abad ke-19, sedang menerima tamu di hadapan para pengiringnya. Gambar: Julius Köckert · Public domain · sumber
Baghdad pada masa Harun ar-Rasyid adalah kota yang membuat para pelancong kehilangan kata-kata. Dari istananya di tepi Sungai Tigris, sang khalifah memerintah wilayah yang membentang sangat luas. Upeti mengalir dari negeri-negeri jauh, para penyair berlomba memujinya, dan satu anggukan kepalanya bisa mengubah nasib seseorang selamanya.
Di antara mereka yang keluar-masuk istana, ada seorang lelaki yang tidak datang untuk memuji. Namanya Ibnu as-Sammak, seorang pemberi nasihat yang dikenal lugas. Sang khalifah justru suka mendengarkannya, sebab di tengah orang-orang yang selalu mengatakan apa yang ingin ia dengar, lelaki ini sesekali mengatakan apa yang perlu ia dengar.
Suatu hari Ibnu as-Sammak menghadap ketika Harun sedang kehausan. Sang khalifah meminta minum, dan seorang pelayan segera membawakan cawan berisi air. Harun mengangkat cawan itu ke bibirnya.
“Pelan-pelan, wahai Amirul Mukminin,” kata Ibnu as-Sammak.
Tangan sang khalifah berhenti di udara.
“Seandainya air seteguk ini dicegah darimu, dengan berapa engkau akan membelinya?”
Harun tidak perlu berpikir lama. Ia tahu rasa haus. Ia pernah menempuh perjalanan jauh dan tahu apa arti air di tanah yang kering.
“Dengan separuh kerajaanku,” jawabnya.
“Minumlah,” kata Ibnu as-Sammak, “semoga Allah menjadikannya nikmat bagimu.”
Harun pun minum sampai lega dan meletakkan cawannya. Orang-orang di ruangan itu mungkin mengira percakapan sudah selesai. Akan tetapi Ibnu as-Sammak belum beranjak.
“Dan seandainya air yang baru engkau minum itu tertahan di dalam tubuhmu dan tak bisa keluar lagi, dengan berapa engkau akan menebusnya?”
Ruangan menjadi sunyi. Pertanyaan itu kasar untuk ukuran istana, tetapi jawabannya sama jelasnya. Orang yang pernah merasakan sakit semacam itu tahu bahwa tak ada takhta yang bisa membuatnya betah.
“Dengan seluruh kerajaanku,” jawab sang khalifah.
Ibnu as-Sammak mengangguk, lalu berkata perlahan:
“Wahai Amirul Mukminin, kerajaan yang nilainya tak lebih berat daripada seteguk air dan sekali buang hajat, sungguh tidak layak diperebutkan.”
Tak ada pengawal yang dipanggil. Tak ada amarah. Penguasa yang namanya dikenal dari Asia Tengah sampai Afrika Utara itu duduk di hadapan cawannya yang kosong, lalu menangis.
💖 Pesan Moral
- Kesehatan adalah kekayaan yang baru terasa saat terganggu. Hal paling sederhana di tubuh kita bisa lebih berharga daripada apa pun yang kita miliki.
- Ukur ambisi dengan kebutuhan yang paling dasar. Banyak yang dikejar mati-matian ternyata kecil nilainya saat kita sungguh-sungguh haus.
- Carilah orang yang berani berkata jujur, lalu dengarkan. Pemimpin besar pun butuh satu suara yang tidak sekadar memuji.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Ibnu as-Sammak dan Harun ar-Rasyid dalam himpunan Seribu Satu Malam (terjemahan Richard Burton, jilid tambahan).