Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Semut dan Belalang

3 menit baca

Semut-semut yang rajin dan belalang yang datang meminta makan, dalam goresan Arthur Rackham (1912). Gambar: Arthur Rackham · Public domain · sumber

Pada suatu musim panas yang cerah, padang rumput dipenuhi bunga dan bunyi riang serangga. Di antara rerumputan tinggi, seekor belalang melompat ke sana kemari sambil bernyanyi. Ia menggesek-gesekkan kakinya, menciptakan irama yang membuatnya merasa menjadi makhluk paling bahagia di dunia.

Tak jauh dari situ, sebarisan semut berjalan rapi. Masing-masing memikul sebutir biji gandum yang hampir sebesar tubuhnya. Mereka berjalan bolak-balik dari ladang ke sarang, tanpa banyak bicara, dari pagi sampai matahari tenggelam.

Belalang memperhatikan mereka dan tertawa. “Hai, Semut! Kenapa kalian sibuk sekali? Lihat, matahari bersinar hangat, makanan ada di mana-mana. Ayo bernyanyi bersamaku!”

Seekor semut berhenti sebentar untuk mengatur napas. “Kami sedang mengumpulkan makanan untuk musim dingin,” jawabnya. “Sebaiknya kamu juga melakukannya. Musim panas tidak akan berlangsung selamanya.”

“Musim dingin? Itu masih lama sekali!” sahut Belalang. “Makanan sekarang melimpah. Untuk apa repot-repot memikirkan hari yang belum datang?” Lalu ia melompat pergi dan kembali bernyanyi.

Hari berganti minggu. Para semut terus bekerja, sementara Belalang terus bermain. Setiap kali ia lewat dan melihat semut-semut itu memikul biji, ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa kasihan kepada makhluk-makhluk yang menurutnya tidak tahu cara menikmati hidup.

Lalu angin mulai berubah. Daun-daun menguning dan berguguran. Pagi hari terasa semakin dingin, dan rumput yang dulu hijau kini layu. Suatu pagi, salju pertama turun dan menutupi padang dengan selimut putih yang membeku.

Belalang terbangun dengan tubuh menggigil. Ia mencari makanan, tetapi tidak menemukan apa-apa. Bunga-bunga sudah mati, biji-bijian terkubur salju. Perutnya keroncongan, kakinya terlalu kaku untuk melompat, apalagi untuk bernyanyi.

Dengan langkah terseok-seok, ia mendatangi sarang semut. Dari dalam, ia bisa mencium aroma gandum dan mendengar suara semut-semut yang hangat dan kenyang.

“Semut yang baik,” katanya lirih, “bolehkah aku meminta sedikit makanan? Aku hampir mati kelaparan.”

Seekor semut tua keluar menemuinya. “Apa yang kamu lakukan sepanjang musim panas, ketika kami bekerja?”

“Aku… aku bernyanyi,” jawab Belalang malu. “Aku tidak sempat mengumpulkan makanan.”

Semut tua itu menatapnya lama. Dalam beberapa versi kisah ini, semut menutup pintunya. Namun dalam banyak versi yang lebih lembut, semut itu menghela napas, lalu memberinya sebutir gandum dan tempat berteduh, sambil berkata, “Masuklah. Tapi ingatlah musim dingin ini. Tahun depan, bernyanyilah sambil bekerja.”

Belalang tidak pernah melupakan musim dingin itu. Sejak saat itu ia tahu, kesenangan hari ini tidak boleh membuat kita lupa menyiapkan hari esok.

💖 Pesan Moral

  • Bersiaplah selagi ada kesempatan. Masa-masa lapang adalah waktu terbaik untuk menabung tenaga, ilmu, dan bekal.
  • Menikmati hidup itu baik, asal tidak melupakan tanggung jawab. Bekerja dan bergembira bisa berjalan bersama.
  • Kebaikan hati tetap penting, bahkan kepada mereka yang lalai, sambil tetap memberi pelajaran.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Semut dan Belalang”, yang juga digubah ulang oleh Jean de La Fontaine dalam “La Cigale et la Fourmi” (1668).