Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tukang Cukur dan Tuhan

3 menit baca

Tukang cukur jalanan di Turkestan dalam foto lama. Gambar: Kun, Aleksandr L., 1840-1888 · Public domain · sumber

Kursi di tempat cukur itu sudah tua, tetapi tangan si tukang cukur masih cekatan. Seorang pelanggan duduk, menyerahkan kepalanya, dan seperti biasa obrolan pun mengalir: soal harga, soal cuaca, soal anak-anak muda sekarang. Lalu, entah bagaimana, percakapan tiba pada Tuhan.

“Saya tidak percaya Tuhan itu ada, Pak,” kata si tukang cukur sambil terus menggunting.

“Kenapa begitu?” tanya pelanggannya dengan tenang.

“Keluar saja ke jalan, Bapak akan tahu. Kalau Tuhan ada, mengapa ada begitu banyak orang sakit? Mengapa ada anak yang terlantar? Mengapa ada begitu banyak penderitaan? Kalau Dia ada dan Dia penuh kasih, semua itu tidak mungkin terjadi. Saya sudah lama memikirkannya.”

Pelanggan itu terdiam. Ia tidak ingin berdebat dengan orang yang sedang memegang pisau cukur di dekat telinganya, dan ia juga mendengar nada lelah yang tulus di balik kata-kata tadi. Karena itu ia hanya mengangguk. Ketika pekerjaan selesai, ia membayar, mengucapkan terima kasih, dan melangkah keluar.

Baru beberapa langkah dari pintu, ia melihat seorang lelaki di trotoar. Rambutnya panjang, kusut, dan berdebu, sementara janggutnya tidak terurus sampai menutupi leher. Pelanggan itu berhenti. Ia memandangi lelaki tersebut sejenak, lalu berbalik dan masuk lagi ke tempat cukur.

“Tahukah Bapak?” katanya. “Tukang cukur itu tidak ada.”

Si tukang cukur tertawa bingung. “Apa maksud Bapak? Saya ada di sini. Saya baru saja mencukur rambut Bapak.”

“Tidak,” kata pelanggan itu. “Tukang cukur tidak ada. Kalau ada, tidak mungkin ada orang berambut gondrong kusut dan berjanggut tak terawat seperti lelaki di luar itu.”

“Ah, tukang cukur tetap ada, Pak! Itu terjadi karena orang itu tidak datang kepada saya.”

Pelanggan itu tersenyum dan menepuk bahu si tukang cukur dengan lembut.

“Nah, itulah maksud saya. Tuhan ada. Banyak penderitaan di dunia terjadi karena orang-orang tidak datang kepada-Nya dan tidak mencari pertolongan-Nya.”

Si tukang cukur memandangi guntingnya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak punya jawaban. Pelanggan itu pun pamit dan berlalu.

💖 Pesan Moral

  • Dengarkan dulu sebelum menjawab. Pertanyaan tentang penderitaan sering lahir dari hati yang lelah, jadi ia layak diperlakukan dengan sopan.
  • Jawaban yang sederhana bisa lebih kena daripada debat panjang. Pelanggan itu tidak menang dengan suara keras. Ia hanya menunjukkan apa yang terlihat di jalan.
  • Pertolongan yang tersedia tetap harus didatangi. Hal itu berlaku bagi iman, dan juga bagi nasihat, pengobatan, atau bantuan dari sesama.
  • Ini sebuah perumpamaan, bukan jawaban tuntas. Penderitaan orang lain tetap perlu ditanggapi dengan belas kasih, bukan disalahkan kepada mereka yang menderita.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer yang beredar luas di kalangan umat beragama; asal-usulnya tidak diketahui.