Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Cindua Mato yang Setia

3 menit baca

Istana Pagaruyung di Tanah Datar, mengingatkan pada kerajaan Bundo Kanduang. Gambar: Jnsenaleo · CC BY-SA 4.0 · sumber

Tidak ada tugas yang lebih pahit bagi Cindua Mato daripada yang diterimanya hari itu. Bundo Kanduang, ratu Pagaruyung, memintanya mengantarkan seserahan ke pesta pernikahan Puti Bungsu. Padahal Puti Bungsu adalah tunangan Dang Tuanku, putra sang ratu, yang sudah ia anggap saudara sendiri sejak kecil.

Gadis itu kini dipaksa menikah dengan Imbang Jayo, raja Sungai Ngiang yang berkuasa. Dang Tuanku dilanda duka. Tetapi Bundo Kanduang tahu, mengirim pasukan berarti memulai perang. Maka yang ia kirim adalah Cindua Mato, seorang pemuda yang terkenal cerdas dan tidak mudah kehilangan akal.

Cindua Mato berangkat dengan hati berat dan kepala yang terus berpikir. Sesampai di tempat pesta, ia menyerahkan bawaannya dengan sopan, duduk di antara para tamu, dan mengamati semuanya.

Lalu cuaca berubah. Menurut kaba, itu berkat ilmunya sendiri. Langit menghitam, badai datang menggulung, dan air membanjiri tempat perhelatan. Para tamu berlarian. Di tengah kekacauan itu, Cindua Mato membawa Puti Bungsu pergi dan memulangkannya ke Pagaruyung.

Ia tahu betul harga dari perbuatan itu. Imbang Jayo datang menyerang dengan pasukannya dan mengepung Pagaruyung. Pertempuran pun pecah, dan Imbang Jayo gugur di medan laga.

Namun ada lawan yang jauh lebih menakutkan. Ayah Imbang Jayo, Tiang Bungkuak, seorang pendekar tua yang konon tak bisa dilukai senjata apa pun. Ia datang untuk menuntut balas. Cindua Mato menghadapinya, dan untuk pertama kalinya ia kalah telak. Pagaruyung dibakar hingga rata dengan tanah. Cindua Mato sendiri ditangkap dan dijadikan budak.

Bagi kebanyakan orang, cerita pahlawan selesai di situ. Tetapi di sinilah Cindua Mato menunjukkan siapa dirinya.

Ia melayani Tiang Bungkuak tanpa mengeluh. Ia menyiapkan sirih, mengurus keperluan sang tuan, dan menundukkan kepala di hadapan orang yang menghancurkan negerinya. Hari demi hari, ia menunggu dan memperhatikan. Di balik pengabdian itu, tujuannya hanya satu: menemukan rahasia kekebalan tuannya.

Akhirnya rahasia itu terbuka. Hanya ada satu benda yang sanggup melukai Tiang Bungkuak, yaitu kerisnya sendiri.

Pada suatu malam, ketika sang pendekar tertidur, Cindua Mato mengambil keris itu dengan hati-hati. Ia tidak membunuh tuannya dalam tidur. Mereka berhadapan dalam duel, dan kali ini keris itu berada di tangan yang tepat. Tiang Bungkuak tumbang.

Cindua Mato bebas. Ia pulang ke puing-puing Pagaruyung dan mulai menegakkan kembali apa yang telah runtuh. Dalam salah satu versi, ia kemudian dipercaya memimpin menggantikan Dang Tuanku, sementara Bundo Kanduang mengundurkan diri agar tidak ada lagi darah tertumpah.

Tukang kaba sudah berabad-abad mendendangkan kisahnya, semalam suntuk, untuk para pendengar yang sudah hafal akhirnya dan tetap datang lagi.

💖 Pesan Moral

  • Setia tidak sama dengan tunduk membabi buta. Cindua Mato memikul tugas pahit, lalu mencari jalan untuk menegakkan apa yang benar.
  • Kekalahan bisa menjadi tempat belajar. Masa perbudakannya dipakai untuk mengenal lawan sampai ke titik lemahnya.
  • Kesabaran adalah bentuk keberanian. Menunggu dalam diam kadang lebih berat daripada mengangkat senjata.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi Kaba Cindua Mato, sastra lisan Minangkabau, Sumatra Barat. Naskah dan penutur kaba ini berbeda dalam banyak rincian.