Gagak dan Kendi Air
Satu kerikil demi satu kerikil. Ilustrasi Arthur Rackham (1912). Gambar: Arthur Rackham · Public domain · sumber
Musim kemarau tahun itu panjang sekali. Hujan tidak turun berbulan-bulan. Sungai-sungai mengering, kolam-kolam berubah menjadi tanah retak, dan daun-daun pepohonan layu kecokelatan.
Seekor burung gagak terbang dari satu tempat ke tempat lain mencari air. Sayapnya sudah lelah, dan tenggorokannya begitu kering sampai ia tidak sanggup lagi berkoak. Kalau ia tidak segera menemukan air, ia tahu ia tidak akan bertahan lama.
Akhirnya, di halaman sebuah rumah petani, ia melihat sebuah kendi tanah liat. Dengan sisa tenaganya, ia menukik turun dan bertengger di bibir kendi itu.
Ia mengintip ke dalam. Ada air! Tetapi hanya sedikit, jauh di dasar kendi. Lehernya terlalu pendek, dan paruhnya tidak bisa menjangkau permukaan air, betapapun ia menjulurkan kepalanya.
Gagak itu mencoba memiringkan kendi dengan mendorongnya, tetapi kendi itu terlalu berat. Ia mencoba lagi dari sisi lain. Kendi itu tetap tidak bergerak. Ia hampir saja putus asa.
“Kalau aku tidak bisa mencapai air,” pikirnya, “barangkali air yang bisa kubuat naik mendekatiku.”
Ia melihat sekeliling. Di tanah, berserakan kerikil-kerikil kecil. Gagak itu terbang turun, memungut satu kerikil dengan paruhnya, lalu menjatuhkannya ke dalam kendi. Plung.
Ia memungut kerikil kedua dan menjatuhkannya juga. Lalu yang ketiga, keempat, kelima. Setiap kali, ia mengintip ke dalam. Perlahan tetapi pasti, permukaan air mulai naik.
Pekerjaan itu melelahkan. Matahari membakar punggungnya, dan setiap kerikil terasa berat bagi tubuhnya yang lemah. Tetapi ia tidak berhenti. Sepuluh kerikil, dua puluh, tiga puluh.
Akhirnya, setelah entah berapa banyak kerikil, air sudah naik cukup tinggi. Gagak itu menjulurkan paruhnya, dan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia merasakan air yang sejuk membasahi tenggorokannya.
Ia minum sepuas-puasnya, lalu bertengger sejenak di bibir kendi, memandangi tumpukan kerikil di dasar air. Bukan kekuatan yang menyelamatkannya hari itu, melainkan akal dan kesabaran.
Menariknya, para ilmuwan modern pernah menguji hal serupa. Dalam percobaan, burung-burung dari keluarga gagak memang terbukti mampu menjatuhkan batu ke dalam tabung air untuk mengangkat makanan yang mengapung, persis seperti dalam fabel kuno ini.
💖 Pesan Moral
- Kebutuhan adalah ibu dari penemuan. Saat jalan biasa buntu, berpikirlah dengan cara yang berbeda.
- Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Usaha kecil yang terus-menerus bisa menyelesaikan masalah besar.
- Jangan cepat putus asa. Kecerdikan sering muncul justru di saat paling sulit.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Gagak dan Kendi Air”. Percobaan ilmiah yang disebut merujuk pada penelitian perilaku burung gagak (misalnya Bird & Emery, 2009) yang terinspirasi fabel ini.