Belajar Berjalan di Handan (邯郸学步)
Keramaian kota dalam gulungan "Sepanjang Sungai saat Qingming" karya Zhang Zeduan. Di kota seperti inilah si pemuda dari Yan belajar meniru cara orang berjalan. Gambar: Zhang Zeduan · Public domain · sumber
Pada zaman dahulu, kota Handan, ibu kota negeri Zhao, terkenal di seluruh negeri karena penduduknya berjalan dengan sangat anggun. Langkah mereka ringan, tubuhnya tegak, gerakannya luwes. Orang dari tempat lain sering berdecak kagum melihat cara orang Handan berjalan.
Di negeri Yan, di sebuah kota kecil bernama Shouling, hiduplah seorang pemuda yang merasa cara berjalannya sendiri kaku dan kampungan. Ia sering mendengar cerita tentang langkah indah orang Handan, dan lama-lama ia tidak bisa berhenti memikirkannya.
“Aku harus pergi ke Handan,” katanya kepada keluarganya. “Aku akan belajar berjalan seperti mereka. Setelah pulang, semua orang pasti akan mengagumiku.”
Keluarganya mencoba menasihati, tetapi tekad pemuda itu sudah bulat. Ia membawa bekal secukupnya dan menempuh perjalanan jauh ke Handan.
Begitu tiba, ia langsung berdiri di pinggir jalan dan memperhatikan orang-orang yang lewat. Ia melihat seorang bapak berjalan, lalu ia menirunya. Ia melihat seorang anak muda berjalan dengan gaya yang berbeda, lalu ia menirunya juga. Lalu ada seorang perempuan dengan langkah kecil-kecil yang anggun, dan ia mencoba menirunya pula.
Setiap kali ia hampir menguasai satu gaya, ia melihat gaya lain yang tampak lebih indah. Ia terus mengganti-ganti. Ia menghitung setiap langkah, mengatur ayunan tangan, memikirkan setiap gerakan kakinya. Orang-orang Handan yang melihatnya tertawa geli.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan berlalu. Bekalnya habis. Cara berjalan orang Handan tak juga ia kuasai. Yang lebih parah, ia sudah lupa bagaimana dulu ia berjalan dengan caranya sendiri. Setiap kali melangkah, kakinya bingung harus bergerak seperti apa.
Akhirnya, dengan malu, pemuda itu memutuskan pulang. Tetapi karena ia sudah tidak tahu lagi cara berjalan, konon ia terpaksa merangkak sepanjang jalan pulang ke negeri Yan.
Kisah ini tercatat dalam kitab Zhuangzi sebagai sindiran terhadap orang yang meninggalkan jati dirinya demi meniru orang lain secara membabi buta. Dari sinilah lahir peribahasa 邯郸学步 (Hándān xué bù), “belajar berjalan di Handan”.
Belajar dari orang lain tentu bukan hal yang salah. Yang keliru adalah meniru tanpa memahami, dan membuang semua yang sudah kita miliki hanya karena silau pada apa yang dimiliki orang lain. Di zaman media sosial, ketika setiap hari kita melihat “gaya berjalan” orang lain yang tampak lebih indah, kisah kuno ini terasa makin relevan.
💖 Pesan Moral
- Belajarlah dari orang lain, tetapi jangan kehilangan dirimu sendiri.
- Meniru tanpa memahami tidak akan membawa kemajuan, justru bisa membuat kita lupa kemampuan yang sudah ada.
- Setiap orang punya langkahnya sendiri. Perbaiki langkahmu, jangan menggantinya dengan langkah orang lain.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Zhuangzi, bab “Qiu Shui” (Air Musim Gugur), karya klasik Taois yang dikaitkan dengan Zhuang Zhou (abad ke-4 SM), asal-usul peribahasa 邯郸学步.