Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bayan Budiman Menahan Sang Istri

3 menit baca

Miniatur Tuti-Nama abad ke-16: seekor burung bercerita kepada sang istri, kisah yang juga dikenal sebagai Hikayat Bayan Budiman. Gambar: Anonymous Unknown author · Public domain · sumber

Saudagar bernama Khoja Maimun punya seekor burung bayan yang bukan sembarang burung. Ia bisa berbicara, pandai bercerita, dan setiap ucapannya mengandung nasihat. Karena itu orang menyebutnya Bayan Budiman.

Suatu hari Khoja Maimun bersiap berlayar untuk berdagang ke negeri yang jauh. Kepergian kali ini akan lama. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti di depan sangkar.

“Bayan, kutitipkan istriku padamu. Temani dan jagalah dia.”

“Baik, Tuan. Akan hamba jaga,” jawab si burung. Ia belum tahu seberat apa amanat itu.

Beberapa waktu kemudian, rombongan putra raja melintas di kampung itu. Warga berkerumun menyambut, dan istri Khoja Maimun ikut melihat dari jauh. Sekali memandang, sang putra raja tidak bisa melupakan wajahnya. Malam itu ia tidak dapat tidur. Esoknya ia menyuruh inang kepercayaannya menyampaikan isi hati, dan perlahan, kesepian sang istri mulai menemukan pintu. Ia tersanjung. Ia juga mulai goyah.

Suatu senja ia berdandan, siap berangkat diam-diam menemui sang pangeran. Di depan pintu, ia berpamitan kepada burung kesayangan suaminya.

Bayan Budiman tahu betul apa yang akan terjadi. Ia juga tahu tidak bisa melarang begitu saja. Burung hanyalah burung, sedangkan orang yang dimabuk rindu tidak mendengarkan larangan. Bila ia menentang terang-terangan, mungkin sang istri akan marah dan tetap pergi.

Maka ia melakukan hal yang lebih cerdik.

“Pergilah, Tuanku,” katanya manis. “Hamba tidak akan menghalangi. Hanya saja, kisah Tuanku ini mengingatkan hamba pada sebuah cerita. Sayang kalau tidak hamba sampaikan.”

Perempuan itu berhenti. Ia penasaran, duduk sebentar, dan si bayan pun mulai bercerita tentang seorang istri yang salihah dan apa yang menimpanya. Ceritanya memikat. Yang satu mengandung cerita lain di dalamnya, dan cerita itu membuka cerita berikutnya. Ketika sampai di akhir, bintang sudah memudar dan ayam berkokok. Terlambat. Sang istri tidak jadi berangkat.

Esok malamnya ia bersiap lagi. Sang bayan kembali menyambutnya dengan sopan. “Tentu, Tuanku. Tetapi tidakkah Tuanku ingin mendengar kisah seorang istri yang durhaka?”

Begitulah terjadi malam demi malam. Sang bayan bercerita tentang kesetiaan, tentang pengkhianatan, tentang raja yang rohnya berpindah ke tubuh kera dan menteri licik yang akhirnya terjebak di tubuh domba. Tidak satu kali pun ia berkata, “Jangan pergi.” Ia hanya membuat perempuan itu lupa pada waktu, sambil menyelipkan pertanyaan ke dalam hatinya melalui nasib tokoh-tokoh dalam kisahnya.

Sementara itu sang putra raja menunggu, dan menunggu, hingga rindunya berubah menjadi kecewa.

Suatu malam, saat satu cerita baru saja selesai dan sang istri berkata, “Bagus sekali, Bayan. Ceritakan yang lain,” terdengar salam dari luar pintu. Suara yang sangat ia kenal. Ia berlari membukanya. Khoja Maimun berdiri di sana, selamat dari perjalanan jauhnya.

Sang saudagar membelai kepala burungnya sambil tersenyum. Rumahnya masih utuh seperti saat ia tinggalkan. Amanat telah ditunaikan.

💖 Pesan Moral

  • Melarang bukan satu-satunya cara menasihati. Cerita bisa menembus hati yang sudah menutup telinga bagi larangan.
  • Beri orang waktu. Keputusan buruk sering lahir dari saat yang terburu-buru, dan menunda sehari saja bisa mengubahnya.
  • Menjaga amanat kadang berarti menjaga kehormatan orang lain tanpa pamrih. Si bayan menyelamatkan rumah tangga itu tanpa meminta pujian.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita bingkai Hikayat Bayan Budiman, sastra Melayu klasik yang berakar pada tradisi Tuti-Nameh Persia dan Sukasaptati India. Rincian bingkainya berbeda antarnaskah.