Kuartet Binatang
Keempat pemusik dari fabel ini diabadikan dalam relief perunggu pada monumen Krylov. Gambar: angelius1979 · CC BY-SA 3.0 · sumber
Gagasan itu datang dari si monyet yang gemar berulah. Pada suatu hari yang cerah ia mengumpulkan kawan-kawannya, yaitu seekor keledai, seekor kambing, dan seekor beruang berkaki bengkok, dan menyampaikan rencana besarnya.
“Kita akan memainkan kuartet! Kita akan membuat dunia terpesona!”
Semua setuju. Mereka segera berburu perlengkapan. Partitur didapat, begitu pula sebuah selo, sebuah biola alto, dan dua buah biola. Keempatnya lalu duduk di padang rumput di bawah pohon linden, menyetel sikap, mengangkat penggesek, dan mulai bermain.
Bunyi yang keluar seperti pintu gudang digaruk dengan garpu. Burung-burung pergi dari pohon linden.
“Berhenti, Saudara-Saudara, berhenti!” teriak si monyet. “Pantas saja musiknya tidak jalan. Cara duduk kita salah! Mishka, kau dengan selomu duduk berhadapan dengan alto. Aku, pemain biola satu, duduk berhadapan dengan biola dua. Barulah musiknya akan lain. Hutan dan gunung akan ikut menari!”
Mereka bangkit, mengangkat kursi, dan berpindah tempat. Monyet mengangguk puas. Penggesek diangkat lagi.
Bunyinya sama saja, malah barangkali sedikit lebih buruk.
Mereka berhenti dan saling memandang. Lalu keledai, yang sejak tadi berpikir keras, menegakkan telinganya.
“Tunggu, aku sudah menemukan rahasianya! Kita pasti bisa selaras kalau duduk berjajar.”
Itu terdengar sangat masuk akal. Mereka pun menurut, lalu duduk rapi dalam satu baris menghadap ke padang rumput. Keempatnya menarik napas dan mulai.
Kuartet itu tetap tidak jalan.
Kini pecahlah perdebatan yang lebih sengit daripada sebelumnya. Si kambing yakin ia harus duduk di ujung. Si beruang ingin pindah ke tengah. Si monyet menuduh keledai. Keledai menuduh kursi. Berjam-jam mereka berdebat siapa harus duduk di mana dan bagaimana caranya.
Keributan itu terdengar sampai jauh, dan seekor burung bulbul terbang mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Keempat musisi itu langsung mengerumuninya.
“Tolonglah kami sebentar,” kata mereka. “Kami punya partitur, kami punya alat musik. Tinggal satu hal saja: katakan bagaimana kami harus duduk!”
Bulbul memandang mereka satu per satu.
“Untuk menjadi pemusik,” katanya, “dibutuhkan keterampilan dan telinga yang lebih halus daripada telinga kalian. Jadi, kawan-kawanku, bagaimanapun kalian duduk, kalian tetap tidak akan menjadi pemusik.”
💖 Pesan Moral
- Mengubah susunan tidak sama dengan menambah kemampuan. Bagan organisasi yang baru tidak otomatis melahirkan kerja yang lebih baik.
- Peralatan lengkap tidak menjamin hasil. Partitur dan biola tidak bisa menggantikan latihan bertahun-tahun.
- Waspadalah kalau rapat terus membahas hal di luar pokok masalah. Itu sering tanda bahwa pokok masalahnya sedang dihindari.
- Kalau tetangga mulai pindah rumah, barangkali masalahnya bukan pada posisi kursi.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Ivan Krylov “Kvartet” (1811). Fabel ini sering ditafsirkan sebagai sindiran terhadap reorganisasi Dewan Negara Rusia pada 1810.