Tupai Kecil dan Jembatan Rama
Tupai palem India; menurut cerita rakyat, garis di punggungnya adalah bekas belaian jari Rama. Gambar: Tisha Mukherjee · CC BY-SA 4.0 · sumber
Ketika Sita diculik dan dibawa ke Alengka, Rama dan pasukan wanara berdiri di tepi lautan luas yang memisahkan daratan dari pulau itu. Untuk menyeberang, mereka harus membangun sebuah jembatan. Maka dimulailah pekerjaan raksasa itu.
Para wanara yang perkasa mengangkat batu-batu besar dan bongkahan gunung, lalu melemparkannya ke laut. Hanoman, Sugriwa, dan para pemimpin pasukan bekerja tanpa henti. Suara batu-batu yang berdebum ke air bergemuruh sepanjang hari.
Di tengah kesibukan itu, ada seekor tupai kecil yang ikut bekerja. Ia tidak mampu mengangkat batu, bahkan kerikil pun terasa berat baginya. Maka ia melakukan apa yang ia bisa. Ia berlari ke laut, membasahi tubuhnya, lalu berguling-guling di pasir pantai sampai bulunya penuh pasir. Setelah itu ia berlari ke ujung jembatan dan mengibaskan tubuhnya, sehingga butir-butir pasir itu jatuh mengisi celah-celah di antara batu.
Bolak-balik, bolak-balik. Ke laut, ke pasir, ke jembatan. Tubuhnya kecil, dan setiap kali hanya segelintir pasir yang ia bawa. Tetapi ia tidak berhenti.
Beberapa wanara memperhatikannya dan tertawa. “Hei, tupai kecil, minggirlah! Nanti kau terinjak. Apa gunanya pasirmu itu dibandingkan batu-batu kami?” Seekor wanara bahkan mengangkat tupai itu dan melemparkannya ke samping.
Tupai itu jatuh tepat di dekat kaki Rama. Rama yang sejak tadi memperhatikan, mengangkatnya dengan lembut ke telapak tangannya.
Ia lalu menoleh kepada para wanara. “Jangan meremehkan makhluk kecil ini. Batu-batu kalian memang besar, tetapi tanpa butir-butir pasir yang mengisi celahnya, jembatan ini tidak akan kokoh. Ia bekerja dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Tidak ada yang lebih berharga daripada itu.”
Para wanara menunduk malu. Rama kemudian membelai punggung tupai itu dengan jari-jarinya. “Terima kasih, sahabat kecilku.”
Menurut tuturan rakyat, bekas belaian jari Rama itu meninggalkan garis-garis di punggung si tupai. Itulah sebabnya, kata orang tua di India, tupai palem India hingga hari ini memiliki tiga garis putih di punggungnya: tanda kasih sayang atas kerja kecil yang dilakukan dengan sepenuh hati.
Tupai itu kembali berlari ke pantai, membasahi tubuhnya lagi, dan berguling di pasir. Jembatan itu masih panjang, dan ia masih punya tenaga.
💖 Pesan Moral
- Tidak ada sumbangan yang terlalu kecil bila diberikan dengan sepenuh hati.
- Pekerjaan besar tersusun dari banyak hal kecil; batu besar butuh pasir untuk mengisi celahnya.
- Pemimpin yang baik menghargai setiap orang, bukan hanya yang paling kuat atau paling terlihat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah rakyat India yang berkaitan dengan pembangunan jembatan Rama (Rama Setu) dalam epos Ramayana. Kisah tupai ini tidak terdapat dalam Ramayana Walmiki, tetapi hidup dalam tradisi lisan dan beberapa Ramayana daerah, terutama di India selatan.