Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Dua Pelawak di Pasar Bei Lefet

3 menit baca

Perayaan Purim dalam gravur abad ke-18. Dalam tradisi Yahudi, tawa pun punya tempat. Gambar: Caspar Jacobsz Philips / Pieter Wagenaar II · CC0 · sumber

Talmud menyimpan sebuah cerita tentang Rabbi Beroka dari Hozae, yang sering pergi ke pasar Bei Lefet. Di sana, menurut kisah itu, ia kerap berjumpa dengan Nabi Elia, yang dalam tradisi Yahudi diyakini masih berkeliling di antara manusia dengan menyamar.

Suatu kali, Rabbi Beroka memanfaatkan pertemuan itu untuk bertanya hal yang sudah lama mengganjal di pikirannya. Pasar sedang ramai. Pedagang berteriak, pembeli menawar, dan orang-orang lalu-lalang dengan urusannya masing-masing.

“Di antara semua orang di pasar ini, adakah yang pantas mendapat tempat di dunia yang akan datang?”

Elia memandang berkeliling, lalu menjawab, “Tidak ada.”

Rabbi Beroka termenung. Seisi pasar, tak seorang pun. Sementara mereka berbincang, Elia menunjuk seorang lelaki yang lewat. Orang itu memakai sepatu hitam dan tidak mengenakan jumbai yang biasa dipakai lelaki Yahudi yang taat.

“Dia. Orang itu punya tempat di dunia yang akan datang.”

Rabbi Beroka segera mengejar lelaki itu dan bertanya apa pekerjaannya. Orang itu mengelak dan menyuruhnya kembali besok. Keesokan harinya ia baru menjawab bahwa ia seorang penjaga penjara. Dengan diam-diam, dan dengan risiko bagi dirinya, ia melindungi para perempuan Yahudi yang ditahan dari perlakuan buruk. Pakaiannya yang tak lazim ia kenakan agar tak ada yang tahu bahwa ia orang Yahudi, sehingga ia bisa mendengar rencana penguasa dan memperingatkan para rabi.

Belum habis keheranan Rabbi Beroka, dua orang lain lewat di pasar. Mereka tampak biasa saja, malah agak konyol.

“Dua orang itu juga punya tempat di dunia yang akan datang,” kata Elia.

Rabbi Beroka mendatangi keduanya. Tentu mereka orang-orang saleh yang tersembunyi, pikirnya. Ahli doa? Penderma besar? Ia bertanya dengan penuh hormat.

“Apa pekerjaan kalian?”

Mereka menjawab dengan enteng:

“Kami pelawak. Kalau melihat orang yang sedih, kami menghiburnya. Kalau melihat dua orang bertengkar, kami berusaha mendamaikan mereka.”

Itu saja. Mereka tidak menyebut kitab atau puasa. Hanya dua lelaki yang menghabiskan hari-hari mereka di pasar, membuat orang murung tersenyum, dan menyelipkan lelucon di antara dua orang yang sudah hampir saling memukul.

Cerita ini tidak mengatakan apa jawaban Rabbi Beroka, dan tidak menerangkan lebih jauh. Talmud membiarkannya begitu saja. Di tengah pasar yang tak punya seorang pun yang layak di mata Elia, ada seorang penjaga penjara yang tak dikenal siapa pun, dan dua orang yang pekerjaannya membuat lelucon.

💖 Pesan Moral

  • Jangan menilai kesalehan dari penampilan. Orang yang kelihatan paling tidak meyakinkan bisa jadi paling dihargai.
  • Membuat orang tertawa bisa menjadi ibadah, terutama bagi mereka yang sedang berat hatinya.
  • Mendamaikan orang adalah pekerjaan mulia, sekalipun alatnya cuma sebuah lelucon.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Talmud Babilonia, traktat Taanit 22a.