Pohon Ek dan Buluh
Badai mematahkan pohon ek, sementara buluh merunduk dan selamat. Lukisan Achille Etna Michallon (1816). Gambar: Achille Etna Michallon · Public domain · sumber
Di tepi sebuah sungai, tumbuhlah sebatang pohon ek yang besar dan megah. Batangnya kokoh, cabangnya lebar, dan akarnya menancap dalam ke tanah. Selama ratusan tahun ia berdiri di sana, dan ia sangat bangga akan kekuatannya.
Di dekat kakinya, di tepi air, tumbuh serumpun buluh. Batangnya kurus, ringan, dan mudah sekali bergoyang. Setiap kali angin bertiup, sekecil apa pun, buluh-buluh itu melengkung dan merunduk.
Pohon ek sering memandangi buluh-buluh itu dengan rasa kasihan bercampur meremehkan.
“Kasihan sekali kalian,” kata pohon ek suatu hari. “Bahkan seekor burung kecil yang hinggap saja sudah membuat kalian membungkuk. Angin sepoi-sepoi pun bisa membuat kalian bergoyang ke sana kemari. Lihatlah aku. Aku berdiri tegak menghadapi angin apa pun. Aku tidak pernah tunduk kepada siapa pun.”
Buluh itu menjawab dengan rendah hati, “Terima kasih atas perhatianmu, Pohon Ek. Tapi jangan khawatirkan kami. Kami memang membungkuk, tapi kami tidak patah. Angin yang paling kencang pun belum pernah mematahkan kami.”
Pohon ek tertawa. “Kita lihat saja nanti.”
Beberapa waktu kemudian, langit tiba-tiba menghitam. Dari arah utara datang badai yang dahsyat. Petir menyambar, hujan turun seperti dicurahkan, dan angin menderu begitu kencang sampai atap-atap rumah di desa seberang beterbangan.
Buluh-buluh di tepi sungai merunduk serendah-rendahnya. Mereka membungkuk sampai hampir menyentuh air, membiarkan angin lewat di atas mereka.
Pohon ek tetap berdiri tegak seperti biasa. Ia menolak membungkuk. Ia menahan angin dengan seluruh batang dan cabangnya. Cabang-cabangnya berderak, daun-daunnya tercabik, tetapi ia bertahan dengan sombong.
Angin bertiup semakin kencang. Pohon ek terus melawan. Lalu terdengar bunyi keras yang memekakkan telinga. Kraaak! Akar-akarnya tercabut dari tanah, dan pohon ek yang megah itu tumbang ke sungai.
Ketika badai akhirnya reda, buluh-buluh perlahan-lahan menegakkan diri kembali. Mereka basah dan sedikit kusut, tetapi utuh. Di samping mereka, terbaring pohon ek yang telah tumbang, akarnya mencuat ke udara.
Dengan suara lirih, pohon ek berkata, “Aku pikir kekuatan berarti tidak pernah tunduk. Ternyata aku salah. Kalian yang lentur justru bertahan, sementara aku yang kaku malah patah.”
💖 Pesan Moral
- Kelenturan sering lebih kuat daripada kekerasan. Orang yang bisa menyesuaikan diri lebih mampu bertahan di masa sulit.
- Rendah hati bukan berarti lemah. Membungkuk sementara bisa menyelamatkan kita dari kehancuran.
- Kesombongan membuat kita kaku dan menolak berubah, bahkan ketika keadaan menuntutnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Pohon Ek dan Buluh”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Chêne et le Roseau”.