Kelinci yang Terkena Pilek
Kelinci, tokoh cerdik dalam cerita-cerita binatang Myanmar. Gambar: Rawpixel Ltd · CC BY 2.0 · sumber
Raja Singa sudah bosan dengan menteri-menterinya. Ia punya tiga menteri, yaitu Beruang, Monyet, dan Kelinci, dan ketiganya tampak makin gemuk dari hari ke hari. Setiap kali memandang mereka, perut sang raja berbunyi.
Masalahnya, seorang raja tak bisa begitu saja memakan menterinya. Rakyat hutan akan menyebutnya tiran. Ia perlu alasan yang terdengar adil.
Maka suatu pagi ia memanggil ketiganya ke dalam gua. Gua itu pengap dan berbau tulang lama. Raja Singa membuka mulutnya lebar-lebar di depan Beruang.
“Menteriku yang jujur, katakan: apakah napasku harum?”
Beruang orang yang lurus. Ia mendekat, mengendus, lalu mundur sambil mengernyit. “Ampun, Baginda. Bau napas Baginda busuk sekali.”
“Berani benar kamu menghina rajamu!” raung Singa. “Itu pengkhianatan!” Dalam sekejap riwayat Beruang pun tamat, dan sang raja kenyang untuk sementara.
Beberapa hari kemudian perutnya kembali lapar. Kali ini Monyet yang dipanggil. Monyet sudah mendengar nasib Beruang, dan ia yakin dirinya lebih pintar.
“Apakah napasku harum?” tanya Singa.
Monyet menghirup udara dalam-dalam, memejamkan mata, dan tersenyum seperti orang di taman bunga. “Harum sekali, Baginda! Seperti melati dan cendana. Hamba belum pernah mencium yang seindah itu.”
“Pembohong!” raung Singa. “Menteri yang menjilat rajanya tak pantas hidup. Kerajaan ini tak butuh penipu!” Monyet pun menyusul Beruang.
Tinggallah Kelinci. Ia tahu benar apa yang menantinya. Jawaban jujur berarti mati, dan jawaban manis juga berarti mati. Malam itu ia tidak tidur. Ia duduk di depan liangnya sambil memikirkan satu hal: pertanyaan itu sebenarnya perangkap, dan satu-satunya cara selamat adalah tidak masuk ke dalamnya.
Pagi harinya utusan raja datang. Kelinci menghadap dengan langkah pelan. Singa membuka mulutnya.
“Nah, Kelinci yang bijak. Apakah napasku harum atau busuk?”
Kelinci mendekat, mengendus sekali, lalu mengusap hidungnya dengan kaki depan. Ia terbatuk kecil.
“Hamba mohon ampun, Baginda. Sudah berhari-hari hamba terkena pilek berat. Hidung hamba tersumbat, dan hamba tak bisa mencium apa pun. Jika Baginda berkenan, izinkan hamba pulang dan beristirahat sampai sembuh. Setelah itu hamba akan segera kembali dan menjawab pertanyaan Baginda dengan jujur.”
Singa membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tak menemukan tuduhan apa pun. Kelinci tidak menghina dan tidak berbohong tentang napasnya. Ia hanya sakit, dan tak ada hukum yang melarang menteri terkena pilek.
Kelinci pun pulang dengan selamat. Konon, pileknya tak pernah sembuh sampai sekarang.
💖 Pesan Moral
- Kenali pertanyaan yang bukan pertanyaan. Ada kalanya orang berkuasa bertanya karena sudah memutuskan, dan jawaban apa pun akan dipakai melawanmu.
- Kejujuran dan jilatan sama-sama bisa gagal di depan orang yang hanya mencari alasan. Di situ dibutuhkan akal.
- Diam yang cerdik kadang menyelamatkan nyawa. Tidak semua hal harus dijawab pada saat itu juga.
- Dan, kalau atasanmu tiba-tiba minta pendapat jujur, periksa dulu hidungmu.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Myanmar yang dikenal sebagai “The Rabbit Has a Cold” dalam kumpulan Burmese Folk-Tales (Maung Htin Aung, 1948). Cerita serupa, dengan harimau sebagai raja, juga dikenal di kalangan orang Shan.