Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ciung Wanara

3 menit baca

Sungai Citanduy di Jawa Barat, tempat bayi Ciung Wanara dihanyutkan menurut cerita. Gambar: HenriPurwanto · CC BY-SA 4.0 · sumber

Kerajaan Galuh di tatar Sunda pernah dipimpin oleh seorang raja arif. Ketika ia memutuskan bertapa, ia menyerahkan takhta kepada patihnya, dengan rupa dan nama yang diubah. Sang patih, yang kemudian bergelar Prabu Barma Wijaya, ternyata tidak mewarisi kearifan tuannya. Ia berkuasa dengan sewenang-wenang.

Di istana ada dua permaisuri, Dewi Naganingrum dan Dewi Pangrenyep. Keduanya mengandung pada waktu yang berdekatan. Dewi Pangrenyep lebih dulu melahirkan seorang putra, Hariang Banga. Ia takut anak Naganingrum kelak akan menyaingi anaknya. Maka ketika Naganingrum melahirkan, bayi itu diam-diam ditukar dengan seekor anak anjing. Bayi yang sebenarnya dimasukkan ke dalam keranjang dan dihanyutkan di Sungai Citanduy.

Naganingrum dituduh melahirkan anjing dan dihukum dengan aib besar. Ia tak bisa membela diri.

Keranjang itu tersangkut di bubu milik sepasang suami istri tua, Aki dan Nini Balangantrang, yang tak punya anak. Mereka merawat bayi itu dengan penuh kasih. Anak itu tumbuh menjadi pemuda cerdas. Suatu hari di hutan ia melihat burung ciung dan seekor monyet, atau wanara. Dari situlah ia memperoleh nama Ciung Wanara.

Ketika dewasa ia mendapat seekor ayam jantan yang tangguh, hasil menetas dari telur yang ditemukan di hutan, dan ia berangkat ke ibu kota. Prabu Barma Wijaya gemar menyabung ayam dan bertaruh. Ciung Wanara menantangnya dengan taruhan yang berani: kalau ayamnya menang, ia meminta separuh kerajaan.

Sang prabu, yang yakin ayamnya tak terkalahkan, menerima. Ayam Ciung Wanara menang, dan raja terpaksa memenuhi janjinya di depan orang banyak. Ciung Wanara pun menjadi penguasa separuh Galuh.

Pada saat itulah ia mulai menggali kebenaran. Ia mendengar tentang perempuan yang dulu dihukum dan tentang keranjang yang hanyut. Ia lalu menyuruh pandai besi membuat kurungan besi yang kukuh, dan mengundang sang raja untuk memeriksanya. Saat Prabu Barma Wijaya melangkah masuk, pintu ditutup. Raja itu terkurung, dan semua kebusukan masa lalu terbongkar. Ibunya, Dewi Naganingrum, dipulihkan namanya.

Namun cerita tak berhenti di situ. Hariang Banga, yang juga berhak atas takhta, tak terima atas perlakuan terhadap ibunya, dan kedua bersaudara itu berperang. Pertarungan mereka berlangsung lama dan tak ada yang menang. Mereka akhirnya berhenti di tepi sebuah sungai.

Atas nasihat orang bijak, keduanya bersepakat membagi negeri. Sungai itu menjadi batasnya. Ciung Wanara memimpin bagian barat, dan Hariang Banga memimpin bagian timur. Sungai itu lalu dikenal dengan nama Cipamali, yang dalam cerita ini berarti sungai pantangan, dan menurut tutur tinular kedua pihak dilarang saling menyerang melewatinya.

Di Karangkamulyan, Ciamis, orang masih bisa mengunjungi situs yang dikaitkan dengan kisah ini.

💖 Pesan Moral

  • Kebohongan istana bisa bertahan lama, tetapi tidak selamanya. Keranjang di sungai itu akhirnya kembali sebagai kebenaran.
  • Kasih orang biasa sering menyelamatkan sejarah. Tanpa Aki dan Nini Balangantrang, tak akan ada Ciung Wanara.
  • Taruhan dan kesombongan menjatuhkan raja. Prabu Barma Wijaya kalah oleh keyakinannya sendiri.
  • Tidak semua pertikaian harus dimenangkan. Membagi secara adil bisa lebih bijak daripada berperang tanpa akhir.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sunda tentang Ciung Wanara dari Kerajaan Galuh; salah satu versi. Rincian nama dan alurnya berbeda-beda dalam berbagai penuturan.