Eklavya dan Ibu Jari
Eklavya berlatih di hadapan patung gurunya, karya Nandalal Bose. Gambar: Author Sister Nivedita and Ananda Kentish Coomaraswamy Illustrator Nandalal Bose · Public domain · sumber
Kabar tentang kehebatan Guru Drona dalam ilmu panah tersebar ke seluruh negeri. Para pangeran dan raja muda datang berbondong-bondong ke Hastinapura untuk berguru kepadanya. Di antara mereka ada seorang pemuda dari hutan bernama Eklavya, putra Hiranyadhanus, raja suku Nishada.
Eklavya berlutut dan menyentuh kaki sang guru, memohon diterima sebagai murid. Drona menolaknya. Eklavya seorang Nishada, golongan yang dianggap rendah oleh para bangsawan, dan menurut wiracarita itu, Drona khawatir pemuda ini kelak akan melampaui murid-muridnya yang berdarah raja.
Eklavya tidak membantah. Ia menunduk memberi hormat, lalu berjalan kembali ke hutan.
Di tempat yang sunyi, ia mengambil tanah liat dan membentuk patung Drona dengan tangannya sendiri. Ia menghormati patung itu seolah-olah gurunya hadir di sana. Setiap hari, di hadapan patung tersebut, ia berlatih: memasang anak panah, membidik, melepaskan, lalu mengulanginya lagi. Tak ada yang mengajarinya dan tak ada yang memujinya. Dengan bakti kepada sang guru dan kesungguhan hatinya, ketiga gerakan dasar memanah menjadi ringan baginya, dan keahliannya tumbuh sampai ke tingkat yang menakjubkan.
Suatu hari, para pangeran Kaurawa dan Pandawa pergi berburu ke hutan dengan izin Drona. Seorang pelayan mengikuti mereka bersama seekor anjing. Anjing itu berkeliaran sendirian sampai bertemu Eklavya, yang berpakaian gelap dan berambut gimbal, lalu menyalak keras-keras.
Eklavya mengangkat busurnya. Dalam sekejap, sebelum anjing itu sempat mengatupkan mulut, tujuh anak panah sudah menancap di dalam mulutnya. Anjing itu lari kembali kepada para pangeran.
Para Pandawa terpana. Keahlian semacam itu belum pernah mereka lihat, dan mereka merasa malu pada kemampuan mereka sendiri. Mereka menyusuri hutan untuk mencari pemanah tak dikenal itu, dan akhirnya menemukannya sedang memanah tanpa henti.
“Siapakah engkau?” tanya mereka.
“Aku putra Hiranyadhanus, raja Nishada,” jawabnya. “Aku murid Drona.”
Arjuna pulang dengan hati gelisah. Ia menemui gurunya berdua saja. Dulu, Drona pernah memeluknya dan berjanji bahwa tak akan ada murid lain yang setara dengan dia. Lalu mengapa kini ada murid Drona yang lebih unggul?
Drona merenung sejenak, lalu mengajak Arjuna menemui Eklavya.
Eklavya melihat gurunya datang dan hatinya penuh kegembiraan. Ia maju, bersujud di kakinya, memperkenalkan diri sebagai murid, dan berdiri dengan tangan terkatup.
“Jika engkau sungguh muridku,” kata Drona, “berikan upah untuk gurumu.”
“Apa yang harus kuberikan, Guru? Perintahkanlah. Tak ada yang tidak akan kuberikan.”
Drona berkata, “Aku menginginkan ibu jari tangan kananmu.”
Wiracarita itu sendiri menyebut permintaan tersebut kejam. Tangan kanan adalah nyawa seorang pemanah, dan ibu jari adalah penarik talinya. Namun Eklavya memegang teguh janjinya. Dengan wajah cerah dan hati yang tidak goyah, ia memotong ibu jarinya dan menyerahkannya kepada sang guru.
Setelah itu ia kembali mengangkat busur dengan jari-jari yang tersisa. Panahnya masih melesat, tetapi kecepatan yang dulu sudah hilang.
Arjuna pun lega, dan janji Drona tetap terjaga. Namun berabad-abad kemudian, orang-orang yang mendengar kisah ini tetap lebih mengingat pemuda dari hutan itu.
💖 Pesan Moral
- Tekad bisa mencari jalannya sendiri. Ketika pintu perguruan tertutup, Eklavya belajar dengan tanah liat, disiplin, dan waktu.
- Kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh asal-usulnya. Penolakan karena golongan tidak mengurangi bakat Eklavya sedikit pun, dan justru menjadi noda bagi orang yang menolaknya.
- Kesetiaan yang tulus bisa disalahgunakan. Kisah ini mengajak kita bertanya: pantaskah seorang guru menuntut pengorbanan seperti itu demi menjaga kedudukan murid kesayangannya?
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Mahabharata, Adi Parwa (Sambhava Parwa).