Empat Orang India di Masjid
Masjid Jami di Delhi, lukisan Thomas Daniell. Rumi tidak menyebut masjid mana yang ia maksud. Gambar: Thomas Daniell · Public domain · sumber
Empat orang India masuk ke sebuah masjid untuk mengerjakan salat. Masing-masing berniat, mengucapkan takbir, lalu berdiri khusyuk dengan penuh kesungguhan. Masjid itu sunyi. Empat lelaki itu tampak seperti gambaran kesalehan yang sempurna.
Saat itulah sang muazin masuk.
Orang pertama melirik sedikit, dan pikirannya langsung melayang kepada jadwal. Tanpa bisa menahan diri, ia berbisik di tengah salatnya.
“Hai muazin, sudahkah kamu mengumandangkan azan? Sudah waktunya, lho.”
Orang kedua mendengar itu. Ia kaget bukan main. Demi menjaga kehormatan salat, ia menegur kawannya.
“Hei, kamu berbicara! Salatmu batal!”
Orang ketiga mendecakkan lidah dan menoleh kepada orang kedua.
“Dasar bodoh, buat apa menegur dia? Tegurlah dirimu sendiri.”
Tinggal orang keempat, yang dari tadi menahan diri dengan susah payah. Ia melihat ketiga kawannya berbicara satu per satu, dan rasa syukur membuncah dalam hatinya. Kali ini ia tidak bisa diam lagi.
“Alhamdulillah,” katanya dengan lega, “aku tidak jatuh ke dalam lubang yang sama seperti kalian bertiga.”
Dengan demikian, keempat salat itu batal semuanya.
Rumi menutup cerita ini dengan pengamatan yang tajam. Orang-orang yang sibuk mengorek aib sesamanya lebih tersesat daripada mereka yang dicela. Berbahagialah orang yang mau mengambil pelajaran dari keburukan orang lain, sebelum dirinya sendiri dijadikan pelajaran oleh orang lain.
Untuk menegaskan maksudnya, ia menambahkan satu kisah pendek tentang dua orang tawanan suku Ghuz. Para penawan hendak membunuh salah satunya supaya yang lain ketakutan dan mengaku di mana hartanya disimpan. Orang yang akan dibunuh mengetahui rencana itu dan berkata, kalau begitu bunuh saja kawanku, dan takut-takutilah aku. Rumi rupanya tahu bahwa manusia, bahkan di ujung nyawa, selalu lebih rela orang lain yang dijadikan contoh.
Sejak berabad-abad lalu, para pembaca Masnavi tertawa membaca kisah empat lelaki ini, sesudah itu biasanya mereka terdiam. Hampir semua orang pernah menjadi orang keempat. Kita melihat salah orang lain, menegurnya demi kebenaran, lalu tidak sadar bahwa teguran itu sendiri sudah menjadi kesalahan.
💖 Pesan Moral
- Menegur orang tidak otomatis membuat kita benar. Orang kedua, ketiga, dan keempat semuanya gagal karena sibuk mengurus salat orang lain.
- Merasa lebih baik dari orang lain adalah jebakan paling halus. Rasa syukur orang keempat ternyata hanya kesombongan yang berpakaian rapi.
- Pandanglah kesalahan orang sebagai cermin, tempat kita bercermin diam-diam, tanpa perlu mengumumkannya.
- Dan kalau sedang ribut di grup percakapan keluarga: orang yang menulis “tolong jangan ribut” biasanya orang keempat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah empat orang India dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku kedua.