Empat Orang Berebut Anggur
Angur, inab, uzum, atau stafil: buah yang sama dengan empat nama. Gambar: Franz Xaver Petter · Public domain · sumber
Empat orang pengembara berjalan bersama dalam satu rombongan. Yang seorang dari Persia, yang seorang dari Arab, yang seorang dari Turki, dan yang seorang dari Yunani. Mereka sudah lama di jalan, lelah, haus, dan tidak punya banyak uang. Suatu hari seorang yang baik hati memberi mereka satu keping dirham untuk dibelanjakan bersama.
Satu dirham untuk empat orang. Di situlah masalah bermula.
Orang Persia langsung berkata bahwa uang itu harus dibelikan angur. Ia sudah lama membayangkannya.
“Tidak,” potong si orang Arab. “Aku tidak mau angur. Aku mau inab.”
Orang Turki menyela dengan keras. Dirham itu punya mereka bersama, dan ia tidak setuju dua-duanya. Ia hanya mau uzum.
Orang Yunani mendengus. Mereka semua keliru, katanya. Yang harus dibeli adalah stafil, dan tidak ada yang lain.
Suara mereka makin meninggi. Masing-masing merasa dirinya yang paling masuk akal, dan masing-masing yakin tiga orang lainnya hendak membuang uang bersama untuk barang yang tidak jelas. Satu sama lain tidak mengerti kata-kata kawannya. Setiap kata asing terdengar seperti hinaan. Kata-kata berubah menjadi teriakan, teriakan berubah menjadi tangan yang mencengkeram baju, dan tak lama kemudian keempatnya sudah saling tinju di pinggir jalan.
Saat itu seorang lelaki bijak yang menguasai banyak bahasa lewat di sana. Ia berhenti dan mendengarkan beberapa saat. Ia mendengar empat kata itu berulang-ulang, dan ia mulai tertawa.
“Berhenti, berhenti. Berikan dirham itu kepadaku,” katanya. “Aku berjanji, keinginan kalian berempat akan terpenuhi dengan satu dirham ini.”
Mereka menatapnya dengan curiga, tetapi akhirnya menyerahkan uang itu. Lelaki itu pergi ke penjual buah dan kembali membawa setangkai besar buah yang ranum. Ia meletakkannya di hadapan mereka.
Si orang Persia berseru, “Angur!” Si orang Arab berseru, “Inab!” Si orang Turki berseru, “Uzum!” Si orang Yunani berseru, “Stafil!”
Mereka semua terdiam, lalu pelan-pelan tersenyum malu. Empat kata itu, dalam empat bahasa, berarti satu hal saja: anggur.
Rumi menuliskan bahwa pertengkaran manusia sering terjadi seperti itu. Kita berbeda nama, kita berkelahi tentang nama, padahal yang dirindukan hanya satu. Selama tidak ada orang yang mengerti semua bahasa, perebutan itu akan terus berlangsung.
💖 Pesan Moral
- Sebelum berdebat, pastikan kalian memperdebatkan hal yang berbeda. Banyak pertengkaran ternyata hanya salah paham soal istilah.
- Dengarkan maksud, bukan hanya kata. Orang lain mungkin menginginkan hal yang sama, dengan cara mengucapkannya sendiri.
- Dunia selalu butuh penerjemah. Orang yang mampu memahami kedua pihak sering lebih berguna daripada orang yang paling keras suaranya.
- Rapat kantor yang berjam-jam: coba periksa, jangan-jangan semua sedang memesan anggur.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah empat orang yang berselisih tentang anggur dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku kedua.