Diogenes dan Aleksander Agung
Aleksander menemui Diogenes, lukisan Gaspar de Crayer. Gambar: Gaspar de Crayer · Public domain · sumber
Tahun 336 sebelum Masehi, utusan kota-kota Yunani berkumpul di Tanah Genting Korintus. Mereka menyatakan siap berperang melawan Persia dan mengangkat seorang raja muda Makedonia sebagai panglima. Usianya baru sekitar dua puluh tahun. Namanya Aleksander.
Berita itu membuat orang-orang penting berdatangan. Para pejabat dan filsuf dari berbagai penjuru mengantre untuk memberi selamat. Setiap orang tahu ke mana angin bertiup, dan setiap orang ingin dikenali oleh pemuda yang kelak mungkin menguasai dunia.
Satu orang tidak datang.
Diogenes dari Sinope tinggal di Korintus saat itu. Ia filsuf yang hidup nyaris tanpa harta, menganggap kebanyakan yang dikejar manusia sebagai beban belaka. Penduduk kota mengenalnya sebagai orang tua nyentrik yang lidahnya tajam. Sementara semua orang sibuk menghadap, ia tetap di Kraneion, daerah pinggir kota, dan tidak berniat beranjak.
Plutarkhos mencatat bahwa ketidakhadiran itu tidak sesuai dengan harapan Aleksander. Maka raja muda itu, yang biasa didatangi, pergi sendiri. Ia berjalan ke Kraneion dengan rombongan pengiringnya dan menemukan Diogenes sedang berbaring berjemur.
Melihat begitu banyak orang mendekat, Diogenes sedikit mengangkat badan dan memandang tamunya. Aleksander menyapanya dengan ramah. Ia bertanya apakah ada sesuatu yang diinginkan sang filsuf.
Bayangkan tawaran itu. Orang yang berdiri di situ memegang kendali atas pasukan seluruh Yunani. Satu kata saja bisa berarti rumah, emas, atau kedudukan. Orang lain pasti berpikir lama sebelum menjawab.
Jawaban Diogenes, menurut Plutarkhos, sangat pendek. Ia minta Aleksander bergeser sedikit, karena tubuhnya menghalangi sinar matahari.
Para pengiring tertawa dan mengejek orang tua yang tidak tahu sopan santun itu. Aleksander tidak ikut tertawa. Ia tertegun oleh keagungan orang yang sama sekali tidak memedulikan dirinya. Dalam perjalanan pulang, ia berkata kepada para pengiringnya, jika ia bukan Aleksander, ia ingin menjadi Diogenes.
Sejarawan tidak bisa memastikan apakah pertemuan itu benar-benar terjadi seperti ini. Banyak cerita tentang Aleksander dibuat untuk menunjukkan kebesarannya, dan versi percakapannya berbeda-beda dalam sumber kuno. Namun kisah ini bertahan lebih dari dua ribu tahun, karena memperlihatkan dua cara memandang kekayaan. Aleksander kemudian menaklukkan wilayah dari Yunani sampai perbatasan India. Diogenes hanya meminta sepotong sinar matahari, sesuatu yang tak bisa diberikan oleh raja mana pun, hanya bisa dihalangi.
💖 Pesan Moral
- Orang yang tidak menginginkan apa-apa sulit dikuasai. Kebebasan Diogenes berasal dari sedikitnya kebutuhan.
- Kebesaran sejati mampu menghargai yang tidak memujinya. Aleksander menghormati orang yang menolak tawarannya, sementara pengiringnya hanya bisa mengejek.
- Jangan silau oleh antrean. Hanya karena semua orang datang menghadap, tidak berarti kita harus ikut.
- Ketahui apa yang sudah cukup bagimu. Kadang yang kita perlukan sudah ada, asal tidak ada yang menghalanginya.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Aleksander Agung dan Diogenes, terutama Kehidupan Aleksander karya Plutarkhos (bab 14). Kebenaran peristiwanya tidak dapat dipastikan, dan percakapan dituturkan secara tidak langsung.