Menunggu Kelinci di Tunggul Pohon (守株待兔)
Sepasang kelinci dalam lukisan Shen Nanpi (1716). Petani dari Song menunggu kelinci yang tidak pernah datang lagi. Gambar: 沈南蘋 Shen Nanpi · Public domain · sumber
Pada zaman Negara-Negara Berperang, di negeri Song, hiduplah seorang petani. Setiap hari ia bangun pagi, memanggul cangkul, lalu bekerja keras di ladangnya sampai matahari terbenam. Hidupnya sederhana, hasil panennya cukup untuk makan, dan ia tidak pernah mengeluh.
Di tengah ladangnya ada sebuah tunggul pohon tua yang sudah lama ditebang. Petani itu sering beristirahat di dekatnya ketika siang terlalu terik.
Suatu hari, saat ia sedang mencangkul, seekor kelinci berlari kencang dari arah semak-semak. Entah dikejar sesuatu atau sekadar panik, kelinci itu tidak melihat ke depan. Duk! Kepalanya menabrak tunggul pohon itu dengan keras. Lehernya patah, dan kelinci itu mati seketika.
Petani itu terbengong-bengong. Ia memungut kelinci yang gemuk itu, menimang-nimangnya, lalu tersenyum lebar. “Wah, hari ini aku makan daging tanpa perlu berburu! Tidak perlu memasang jerat, tidak perlu berkeringat.”
Malam itu ia makan dengan sangat lahap. Tetapi sebelum tidur, sebuah pikiran muncul di kepalanya. “Kalau hari ini ada kelinci yang menabrak tunggul, besok pasti ada lagi. Untuk apa aku capek-capek mencangkul? Lebih baik aku menunggu di sana saja.”
Esok harinya, petani itu meletakkan cangkulnya di sudut rumah. Ia pergi ke ladang, duduk di samping tunggul, dan menunggu. Matahari naik, matahari turun. Tak seekor kelinci pun datang.
“Mungkin besok,” pikirnya.
Hari berganti hari. Ia tetap duduk di samping tunggul itu, menatap semak-semak dengan penuh harap. Tetangga-tetangganya mulai berbisik dan menggeleng-gelengkan kepala. Sementara itu, rumput liar tumbuh makin tinggi. Ladangnya yang dulu rapi kini dipenuhi ilalang. Tanaman yang seharusnya dipanen layu karena tidak dirawat.
Kelinci kedua tidak pernah datang. Yang datang justru musim paceklik, dan petani itu tidak punya apa-apa untuk dimakan. Seluruh negeri Song pun menertawakannya.
Dari kisah inilah lahir peribahasa 守株待兔 (shǒu zhū dài tù), “menjaga tunggul menunggu kelinci”. Peribahasa ini dipakai untuk menyindir orang yang berharap keberuntungan sekali datang berulang-ulang, atau orang yang terpaku pada cara lama dan tidak mau menyesuaikan diri dengan keadaan.
Han Feizi, filsuf yang mencatat kisah ini, sebenarnya memakainya untuk mengkritik para penguasa yang ingin memerintah dengan cara raja-raja zaman dahulu, padahal zaman sudah berubah. Namun pesannya tetap terasa dekat sampai sekarang: kebetulan yang menyenangkan bukanlah rencana hidup.
💖 Pesan Moral
- Keberuntungan bukan pengganti kerja keras. Yang menghidupi petani itu adalah cangkulnya, bukan tunggul pohonnya.
- Jangan menjadikan satu kebetulan sebagai pola. Apa yang terjadi sekali belum tentu terulang.
- Zaman berubah, cara pun harus menyesuaikan. Berpegang pada keberhasilan masa lalu bisa membuat kita tertinggal.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Han Feizi, bab “Wu Du” (Lima Kutu), karya filsuf Han Fei (abad ke-3 SM), asal-usul peribahasa 守株待兔.