Li Bai dan Nenek Pengasah Alu (磨杵成针)
Li Bai, sang "Dewa Puisi", dalam lukisan tinta karya Liang Kai dari Dinasti Song. Konon ketekunannya berawal dari seorang nenek pengasah alu. Gambar: Liang Kai · Public domain · sumber
Li Bai adalah salah satu penyair terbesar dalam sejarah Tiongkok. Ia hidup pada masa Dinasti Tang, lebih dari seribu dua ratus tahun yang lalu, dan puisi-puisinya masih dihafal anak-anak sekolah sampai hari ini. Tetapi ada sebuah legenda yang mengatakan bahwa sewaktu kecil, Li Bai bukanlah murid yang tekun.
Menurut kisah itu, Li Bai kecil tinggal di daerah Sichuan, dekat Gunung Xiangr. Ia anak yang cerdas, tetapi cepat bosan. Membaca buku membuatnya mengantuk, menghafal pelajaran membuatnya gelisah. Pikirannya selalu melayang ke luar jendela.
Suatu hari, ketika gurunya sedang lengah, Li Bai menutup bukunya dan menyelinap keluar. Ia berlari ke tepi sungai kecil di kaki gunung, menikmati udara bebas dan merasa lega terlepas dari pelajaran.
Di tepi sungai itu, ia melihat seorang nenek tua duduk di atas batu. Nenek itu sedang menggosok-gosokkan sebatang alu besi yang tebal ke sebuah batu asah. Srek, srek, srek. Gerakannya pelan, tetapi tidak berhenti sedikit pun.
Li Bai penasaran dan mendekat. “Nek, sedang apa?”
“Nenek sedang mengasah alu ini,” jawab si nenek tanpa menoleh. “Nenek mau membuatnya menjadi jarum jahit.”
Li Bai hampir tertawa. “Jarum? Dari alu sebesar itu? Mana mungkin, Nek! Sampai kapan pun tidak akan selesai.”
Nenek itu tersenyum dan akhirnya menatap Li Bai. “Kenapa tidak mungkin, Nak? Hari ini nenek asah sedikit, besok nenek asah sedikit lagi. Alu ini akan semakin kecil setiap hari. Asalkan nenek tidak berhenti, suatu hari pasti ia menjadi jarum.”
Li Bai terdiam. Kata-kata sederhana itu menancap dalam hatinya. Ia teringat buku-buku yang ia tinggalkan, pelajaran yang ia anggap terlalu sulit dan terlalu banyak. Kalau sebatang alu besi saja bisa menjadi jarum karena ketekunan, apalagi pelajarannya.
Ia membungkuk memberi hormat kepada nenek itu, lalu berlari kembali ke ruang belajarnya. Sejak hari itu, konon Li Bai belajar dengan sungguh-sungguh, sampai akhirnya menjadi penyair yang dijuluki “Dewa Puisi”.
Kisah ini tidak tercatat dalam biografi resmi Li Bai, melainkan muncul dalam catatan para penulis berabad-abad sesudahnya, jadi sebaiknya dipahami sebagai legenda. Namun dari legenda inilah lahir peribahasa yang sangat terkenal: 铁杵磨成针 (tiě chǔ mó chéng zhēn) atau 磨杵成针 (mó chǔ chéng zhēn), “alu besi diasah menjadi jarum”. Ada juga ungkapan lengkapnya: 只要功夫深,铁杵磨成针, “asalkan usahanya tekun, alu besi pun bisa diasah menjadi jarum.”
💖 Pesan Moral
- Ketekunan mengalahkan kemustahilan. Hasil besar lahir dari usaha kecil yang dilakukan setiap hari.
- Jangan menyerah hanya karena jalannya terasa panjang. Yang penting bukan cepatnya, tetapi tidak berhentinya.
- Pelajaran berharga bisa datang dari siapa saja, bahkan dari seorang nenek di tepi sungai.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda tentang masa kecil penyair Li Bai (701–762), yang antara lain dicatat dalam Fangyu Shenglan karya Zhu Mu dari Dinasti Song Selatan; kisah ini legenda, bukan catatan biografi resmi.