Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Burung Pelatuk dan Singa yang Tak Tahu Terima Kasih

3 menit baca

Kisah singa dan burung pelatuk juga terpahat pada relief Candi Borobudur. Gambar: Anandajoti Bhikkhu · CC BY-SA 3.0 · sumber

Seekor singa sedang melahap mangsanya ketika sekeping tulang tersangkut di tenggorokannya. Ia batuk, menggeleng, dan mencakar lehernya sendiri, tetapi tulang itu tetap di sana. Lehernya membengkak. Hari demi hari ia tak bisa menelan apa pun, dan sakitnya makin menjadi. Raja hutan yang ditakuti seluruh Himalaya itu kini hanya bisa berbaring sambil merintih.

Seekor burung pelatuk yang sedang mencari makan hinggap di dahan dekat situ dan melihat keadaannya.

“Sahabat, apa yang terjadi denganmu?”

Dengan suara serak singa menceritakan semuanya. Pelatuk itu memandang rahang besar di bawahnya, deretan gigi yang lebih panjang dari tubuhnya sendiri.

“Aku bisa mengambil tulang itu,” katanya. “Tetapi aku tidak berani memasukkan kepalaku ke mulutmu. Bagaimana kalau kau memakanku?”

“Jangan takut. Aku tidak akan memakanmu. Selamatkan saja nyawaku.”

Pelatuk menimbang-nimbang. Makhluk yang sedang kesakitan bisa berjanji apa saja, tetapi nyawa yang di depannya juga nyawa. Ia menyuruh singa berbaring miring dan membuka mulut lebar-lebar. Sebelum masuk, ia mencari sebatang kayu kecil dan memasangnya tegak di antara rahang atas dan rahang bawah, supaya mulut itu tak bisa menutup.

Barulah ia memasukkan kepalanya. Ia mematuk ujung tulang itu sekali, dua kali, sampai tulangnya lepas. Lalu ia mundur, memukul jatuh kayu penyangga dengan paruhnya, dan melompat naik ke dahan.

Singa itu sembuh. Tak lama kemudian ia sudah kembali berburu seperti dulu.

Suatu hari ia menjatuhkan seekor kerbau liar dan sedang memakannya ketika pelatuk lewat. Burung itu teringat pada janji-janji orang sakit, dan ingin tahu seperti apa isi hati singa itu sekarang. Ia hinggap di dahan tepat di atas kepalanya.

“Sahabat, dulu aku pernah menolongmu semampuku. Hari ini, adakah sedikit bagian untukku?”

Singa mendongak dengan mulut penuh daging. Tak ada bekas rasa terima kasih di matanya.

“Aku ini pemakan daging dan pembunuh. Kau sudah memasukkan kepalamu ke mulut seekor singa dan keluar hidup-hidup. Itu sudah hadiah yang cukup besar.”

Pelatuk memandangnya sebentar. Ia tidak marah, dan tidak menyebut-nyebut lagi jasanya.

“Tak ada yang bisa diharapkan dari orang yang tak tahu berterima kasih,” katanya. “Memarahinya pun tak ada gunanya. Lebih baik pergi dengan tenang.”

Lalu ia mengepakkan sayap dan terbang. Pohon-pohon di Himalaya masih banyak, dan ulat di dalamnya pun tak pernah habis. Ia tidak perlu apa-apa dari singa itu.

💖 Pesan Moral

  • Tolonglah, tetapi pasang penyangga. Niat baik tidak berarti harus ceroboh; pelatuk tetap menjaga dirinya sambil menolong.
  • Balas budi tidak bisa ditagih. Bila kebaikan kita tak diakui, kita boleh kecewa, tetapi menuntut hanya akan menambah sakit hati.
  • Kenali watak, jangan hanya janjinya. Janji orang yang sedang kesusahan belum tentu bertahan ketika susahnya hilang.
  • Tahu kapan harus pergi. Terkadang jawaban terbaik atas sikap tak tahu terima kasih adalah menjauh tanpa dendam.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Javasakuna Jataka (Jataka no. 308), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis. Dongeng serupa tentang bangau dan serigala dikenal dalam fabel Aesop.