Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Burung Tittibha Melawan Lautan

3 menit baca

Trulek gelambir merah, burung air India yang sering disamakan dengan tittibha. Gambar: Umang Jung Thapa · CC BY-SA 4.0 · sumber

Sepasang burung tittibha hidup di tepi laut yang luas. Tittibha adalah burung kecil berkaki panjang yang bersarang di tanah. Laut di hadapan mereka penuh dengan ikan, penyu, buaya, dan kerang mutiara, dan setiap hari ombaknya berdebur tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Ketika sudah tiba waktunya bertelur, si betina berkata kepada suaminya, “Carikan tempat lain untukku. Tempat ini terlalu dekat dengan laut. Suatu hari pasang bisa menjangkau sarang dan menyapu anak-anak kita.”

Si jantan membusungkan dada. “Di sinilah rumah leluhur kita. Bertelurlah di sini. Laut mengenal aku. Mana berani ia memusuhiku?”

Si betina tertawa getir, tetapi tidak bisa membujuknya. Ia pun bertelur di sana.

Laut mendengar percakapan itu. “Lucu sekali,” pikirnya. “Burung sekecil ini tidur telentang sambil mengangkat kaki, seolah-olah ia sedang menopang langit. Mari kita lihat seberapa besar kekuatannya.”

Keesokan harinya, ketika sepasang burung itu pergi mencari makan, laut mengulurkan ombaknya jauh ke darat dan mengambil telur-telur mereka.

Si betina pulang dan menemukan sarangnya kosong. Tangisnya pecah. “Sudah berkali-kali kukatakan agar kita pindah. Kini anak-anakku hilang!”

“Tunggu dan lihat,” kata si jantan. “Akan kukeringkan laut itu dengan paruhku.”

“Bagaimana kau bisa melawan laut? Sungai-sungai tak henti mengalirinya.”

Si jantan tahu ucapannya mustahil, tetapi ia menolak untuk menyerah. Ia memanggil semua burung yang ia kenal dan menceritakan kemalangannya. Burung-burung itu datang berbondong-bondong. Mula-mula mereka memukul air dengan sayap. Lalu ada yang mengusulkan agar laut ditimbun, dan mereka pun mengangkut tanah dan kerikil dengan paruh, sedikit demi sedikit, dan menjatuhkannya ke ombak.

Laut tidak berkurang setetes pun. Seekor burung akhirnya berkata, “Kita tidak akan sanggup. Mari kita tanyakan nasihat kepada angsa tua yang tinggal di pohon beringin.”

Nasihat si angsa tua sederhana: bawalah perkara ini kepada Garuda, raja semua burung, yang tak akan membiarkan rakyatnya dihina.

Mereka pun menghadap Garuda dan memohon. “Selagi Tuan bersinar dalam kemuliaan, kami hidup dari apa yang didapat paruh kami. Hanya karena kami harus mencari makan, laut merampas anak-anak kami.”

Garuda murka. Saat itu Dewa Wisnu sedang memanggilnya untuk ikut dalam perang para dewa, tetapi ia menolak berangkat sebelum perkara ini selesai. Maka Dewa Wisnu sendiri datang menemuinya. Garuda menunduk dan menyampaikan bahwa laut telah mencuri telur abdinya, dan itu mempermalukan dirinya sebagai tuan mereka.

Dewa Wisnu membenarkan ucapannya. Beliau pergi ke tepi laut, memasang panah api pada busur, dan bersabda, “Kembalikan telur-telur burung itu, atau kau akan kujadikan daratan kering.”

Seluruh isi laut gemetar ketakutan. Dengan ombak yang tak lagi congkak, laut mengembalikan telur-telur itu ke sarangnya, satu per satu dan tanpa cacat.

💖 Pesan Moral

  • Dengarkan peringatan dari orang terdekat. Semua bencana ini berawal dari kesombongan si jantan yang menolak pindah.
  • Kecil bukan berarti tak berdaya. Burung itu tak sanggup melawan laut sendirian, tetapi ia tahu cara mengumpulkan teman dan mencari orang yang tepat.
  • Ketekunan membuat suara kecil terdengar. Laut baru mengalah setelah keluhan seekor burung kecil diteruskan dari satu pihak ke pihak lain sampai ke tempat tertinggi.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Burung yang Melawan Lautan” dalam Panchatantra, Buku I (Perpecahan Sahabat). Beberapa cerita sisipan di dalamnya dilewati.