Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bruriah dan Dua Permata

3 menit baca

Upacara penutup Sabat dalam lukisan Moritz Oppenheim, saat yang sama ketika Bruriah menyerahkan cawan kepada suaminya. Gambar: Moritz Daniel Oppenheim · Public domain · sumber

Rabbi Meir termasuk guru terbesar pada zamannya, dan istrinya, Bruriah, dikenal sebagai perempuan yang ilmunya tidak kalah dari para sarjana. Mereka memiliki dua putra.

Pada suatu hari Sabat, sore menjelang senja, Rabbi Meir sedang duduk mengajar di rumah belajar. Di rumah, kedua anak mereka meninggal dunia.

Bruriah sendirian dengan kedua jenazah itu. Tak ada yang bisa kita ketahui tentang apa yang terjadi di dalam dirinya pada saat-saat itu. Kisah ini hanya mencatat apa yang ia lakukan. Ia membaringkan keduanya di atas tempat tidur dan menutupi mereka dengan kain. Sabat belum berakhir. Pada hari perhentian itu orang tidak boleh berkabung, dan suaminya sedang mengajar. Ia pun menunggu.

Saat hari mulai gelap, Rabbi Meir pulang. Hal pertama yang ia tanyakan adalah anak-anaknya.

“Di mana kedua anak kita?”

“Mereka pergi ke rumah belajar,” jawab Bruriah.

“Tadi aku memperhatikan, tetapi tidak melihat mereka di sana.”

Bruriah tidak menjawabnya. Ia membawakan cawan untuk upacara Havdalah, doa penutup Sabat. Rabbi Meir mengucapkannya. Lalu ia bertanya lagi tentang kedua anaknya, dan Bruriah mengatakan mereka pergi ke suatu tempat, sebentar lagi pulang. Ia menghidangkan makanan, dan suaminya makan.

Setelah ia selesai, dan setelah hatinya tenang, Bruriah duduk di depannya.

“Rabbi, aku punya satu pertanyaan.”

“Katakanlah.”

“Beberapa waktu lalu seseorang datang dan menitipkan barang berharga kepadaku. Sekarang ia datang untuk mengambilnya kembali. Haruskah kukembalikan, atau tidak?”

Pertanyaan itu mudah, bahkan mengherankan datang dari orang sepandai dia.

“Istriku, bukankah orang yang dititipi wajib mengembalikan titipan kepada pemiliknya?”

“Aku tidak akan mengembalikannya tanpa memberitahumu lebih dulu,” kata Bruriah.

Ia menggandeng tangan suaminya, menuntunnya ke kamar, dan mengangkat kain penutup.

Rabbi Meir pun menangis. Ia meratap menyebut anak-anaknya, menyebut mereka guru-gurunya. Bruriah membiarkannya menangis, lalu berkata dengan suara pelan:

“Rabbi, bukankah engkau sendiri yang mengatakan bahwa kita harus mengembalikan titipan kepada pemiliknya?”

Maka Rabbi Meir mengucapkan ayat dari Kitab Ayub, sebagaimana diingat setiap orang yang pernah berduka dalam tradisi itu: “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil; terpujilah nama TUHAN.”

Rabbi Hanina, yang meriwayatkan kisah ini, mengatakan bahwa dengan cara itulah Bruriah menghibur suaminya sampai hatinya tenang. Karena itulah, katanya, ada tertulis: “Istri yang cakap, siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga daripada permata.”

💖 Pesan Moral

  • Kabar berat perlu waktu dan cara. Bruriah memikirkan bagaimana suaminya bisa sanggup mendengarnya.
  • Menghibur orang lain adalah bentuk keberanian, apalagi saat kita sendiri sedang dihantam kehilangan yang sama.
  • Yang kita sayangi tidak pernah benar-benar kita miliki. Bagi yang percaya, cara memandang ini tidak menghapus air mata, tetapi memberinya tempat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Midrash Mishlei (Midrash Amsal) 31:10; beberapa rincian berbeda antarversi.