Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Orang-Orang Buta dan Seekor Gajah

3 menit baca

"Para Biksu Buta Meraba Gajah", karya Hanabusa Itchō (1652–1724). Gambar: Hanabusa Itchō · Public domain · sumber

Suatu ketika, para murid Sang Buddha pulang dari kota dengan wajah bingung. Mereka baru saja menyaksikan para guru dari berbagai aliran saling berdebat dengan sengit. Masing-masing berkata, “Hanya pendapatku yang benar, yang lain keliru!” Perdebatan itu berakhir dengan saling mencela.

Sang Buddha mendengarkan cerita mereka, lalu berkata, “Dengarlah sebuah kisah.”

Dahulu kala, seorang raja memanggil pelayannya. “Kumpulkan semua orang di kota ini yang buta sejak lahir, lalu bawa mereka ke hadapanku.” Pelayan itu melaksanakan perintahnya. Kemudian raja menyuruh agar seekor gajah dibawa ke tengah-tengah mereka.

“Wahai orang-orang yang tidak dapat melihat,” kata sang raja, “inilah gajah. Rabalah, lalu ceritakan kepadaku seperti apa gajah itu.”

Orang-orang itu maju dan meraba. Ada yang memegang kepala gajah, ada yang memegang telinganya, ada yang menyentuh gadingnya, belalainya, badannya, kakinya, punggungnya, ekornya, dan ujung ekornya yang berbulu.

Setelah itu raja bertanya, “Nah, seperti apakah gajah itu?”

Yang meraba kepala menjawab, “Gajah itu seperti tempayan besar, Baginda.”

Yang meraba telinga menyela, “Bukan! Gajah itu seperti nyiru, lebar dan tipis.”

Yang memegang gading berkata, “Kalian salah semua. Gajah itu seperti mata bajak, keras dan runcing.” Yang memegang belalai bersikeras gajah itu seperti gagang bajak. Yang meraba badan berkata gajah itu seperti lumbung. Yang memegang kaki yakin gajah itu seperti tiang. Yang memegang ekor menyebutnya seperti alu, dan yang memegang ujung ekor berkata gajah itu seperti sapu.

Mereka mulai berteriak satu sama lain. “Gajah itu begini!” “Tidak, begitu!” Suara mereka makin keras, hingga akhirnya mereka saling memukul dengan kepalan tangan. Sang raja menyaksikan semua itu dan tertawa geli.

Sang Buddha menutup kisahnya dengan berkata kepada para murid, “Begitulah para guru yang berdebat itu. Masing-masing hanya memegang satu bagian, lalu bertengkar karena mengira bagian itulah keseluruhannya.”

Yang menarik, tidak seorang pun dari mereka berbohong. Setiap orang menceritakan dengan jujur apa yang ia rasakan. Kesalahan mereka hanya satu: mengira bahwa apa yang mereka sentuh adalah seluruh kebenaran, dan menolak mendengar pengalaman orang lain.

Andaikan mereka mau duduk bersama dan menggabungkan apa yang masing-masing ketahui, mungkin mereka bisa membayangkan gajah itu dengan jauh lebih utuh.

💖 Pesan Moral

  • Pengalaman kita benar, tetapi sering kali hanya sebagian. Jangan cepat menganggapnya sebagai seluruh kebenaran.
  • Mendengarkan sudut pandang orang lain dapat melengkapi gambaran yang tidak bisa kita lihat sendiri.
  • Merasa paling benar adalah awal dari pertengkaran; kerendahan hati adalah awal dari pemahaman.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan dalam Udana 6.4 (Tittha Sutta) di Kanon Pali Buddhis. Perumpamaan serupa juga dikenal luas dalam tradisi Jain, Hindu, dan sufi.