Oheo dan Bidadari
Air Terjun Moramo di Sulawesi Tenggara, gambaran alam tanah Tolaki tempat kisah Oheo dituturkan. Gambar: Firstlab18 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Oheo seorang petani dari tanah Tolaki yang hidup sendirian. Suatu hari, saat lewat di tepi sungai, ia mendengar tawa perempuan dari balik semak. Ia mengintip dan melihat tujuh putri kahyangan sedang mandi. Pakaian terbang mereka tergeletak di atas batu.
Oheo mengambil satu pakaian dan menyembunyikannya di lubang ujung kasau bambu di rumahnya. Sore harinya, enam putri terbang pulang. Yang bungsu, Anawai Ngguluri, tertinggal sambil menangis di tepi sungai.
Oheo menawarkan pertolongan dan tempat tinggal. Ia juga meminta sang putri menjadi istrinya. Anawai Ngguluri lama terdiam, lalu mengajukan satu syarat.
“Aku mau, asalkan kelak, kalau kita punya anak, engkaulah yang membersihkan kotorannya. Berjanjilah.”
Permintaan itu terdengar sepele, dan Oheo langsung setuju. Mereka menikah, dan beberapa waktu kemudian lahirlah seorang anak.
Pada awalnya Oheo menepati janji. Namun lama-lama ia merasa pekerjaan itu merendahkan seorang lelaki. Suatu hari, ketika istrinya memintanya mengurus si kecil, ia menolak dengan kesal dan menyuruh Anawai Ngguluri mengerjakannya sendiri.
Sang istri tidak bertengkar. Ia pergi ke sudut rumah, dan di dalam lubang kasau ia menemukan pakaian terbangnya. Hatinya hancur oleh dua kenyataan sekaligus: janji yang diingkari, dan tipu daya sejak hari pertama. Ia mengenakan pakaian itu dan terbang pulang ke kahyangan.
Oheo menggendong anaknya dan baru mengerti apa yang telah ia lakukan. Ia tidak menunggu dan tidak menyalahkan siapa pun. Ia mencari jalan ke langit.
Perjalanan itu membawanya pada sebatang pohon yang menjulang tinggi, yang sanggup mengantarnya ke atas dengan satu syarat: ia harus memasang cincin pada setiap rantingnya. Pekerjaan itu amat panjang, tetapi ia tak berhenti. Ketika ranting terakhir telah bercincin, Oheo dan anaknya diantar sampai ke kahyangan.
Di sana ia menghadap ayah Anawai Ngguluri. Penguasa kahyangan itu tak mudah menerimanya. Ada tiga syarat yang harus dipenuhi sebelum ia boleh membawa putri bungsunya pulang, dan yang pertama adalah membalikkan batu sebesar istana. Oheo menghadapinya satu per satu, tanpa mengeluh, karena ia tahu dirinya yang bersalah.
Ujian-ujian itu akhirnya selesai. Oheo berdiri di depan istrinya, menggendong anak mereka, dan kali ini ia tidak mengucapkan janji yang mudah. Anawai Ngguluri memandang lelaki yang sudah menempuh jalan selangit itu, dan ia bersedia kembali bersamanya.
💖 Pesan Moral
- Janji kecil sering menjadi ujian terbesar. Yang menghancurkan rumah tangga Oheo hanyalah tugas harian yang dianggapnya remeh.
- Mengurus anak adalah pekerjaan yang mulia, bagi ibu dan juga bagi ayah.
- Pernikahan yang dimulai dengan tipu daya menyimpan bom waktu. Pakaian yang disembunyikan itu pada akhirnya ditemukan juga.
- Penyesalan sejati tampak dari usaha. Oheo menebus kesalahannya dengan tindakan, dan itu makan waktu lama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Tolaki, Sulawesi Tenggara; salah satu versi. Ejaan nama tokoh dan isi ujian di kahyangan berbeda-beda dalam berbagai penuturan.