Ayam Jago dan Dua Kota
Ayam jago di Nigeria. Perkara sekecil ini hampir menghancurkan dua kota dalam kisah Calabar. Gambar: Omoeko Media · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di tepi sungai di Calabar, Ekpo dan Etim tumbuh sebagai dua saudara seibu berbeda ayah. Ibu mereka mula-mula menikah dengan seorang kepala suku di Duke Town dan melahirkan Ekpo, lalu pindah ke Old Town, menikah lagi, dan melahirkan Etim. Keduanya menjadi orang kaya, masing-masing di kotanya, dan hubungan mereka baik.
Ekpo memiliki seekor ayam jago yang sangat ia sayangi. Setiap kali ia duduk makan, ayam itu terbang ke meja dan ikut makan dari piringnya.
Ada lagi seorang lelaki bernama Ama Ukwa, warga Old Town yang agak miskin. Di depan kedua saudara itu ia selalu bersikap ramah, tetapi di dalam hatinya ia iri bukan main. Ia sudah lama mencari jalan untuk mengadu domba mereka.
Kesempatan itu datang ketika Ekpo mengadakan jamuan besar. Etim diundang, begitu pula banyak orang lain, termasuk Ama Ukwa. Hidangannya lezat dan tuak mengalir berlimpah. Di tengah pesta, ayam jago Ekpo terbang ke meja dan mulai mematuk dari piring Etim. Karena merasa terganggu, Etim menyuruh pelayannya menangkap ayam itu dan mengikatnya di rumah sampai pesta selesai.
Larut malam, Etim pulang bersama sahabatnya Ama Ukwa. Sebelum tidur, Ama Ukwa melihat ayam itu terikat. Matanya berbinar.
Pagi-pagi ia sudah berada di rumah Ekpo. Ketika waktu makan pagi tiba, Ekpo mencari-cari ayamnya.
“Adikmu mengambil ayam itu tadi malam,” kata Ama Ukwa dengan nada prihatin, “dan ia bermaksud menyembelihnya, untuk melihat apa yang akan kamu lakukan.”
Ekpo sangat kesal. Ia menyuruh Ama Ukwa pergi meminta adiknya mengembalikan ayam itu segera. Permintaan yang wajar. Namun bukan itu yang sampai ke telinga Etim.
“Kakakmu murka karena kamu mengambil sahabatnya, si ayam. Ia mengirimku untuk menyatakan perang di antara kedua kota.”
Etim tersinggung. “Katakan kepadanya, aku siap menghadapi apa pun yang ia lakukan.”
Ama Ukwa bolak-balik di antara kedua saudara itu. Kepada Ekpo ia menyarankan untuk memanggil semua orangnya dari ladang, sebab Etim akan menyerang. Kepada Etim ia menyarankan hal yang sama. Ia bahkan mengatur hari pertempurannya. Tak sekali pun kedua saudara itu bertemu dan berbicara langsung.
Etim membawa pasukannya ke seberang anak sungai. Ekpo memimpin pasukannya untuk menghadapinya. Pertempuran besar pecah dan berlangsung sepanjang hari, dengan banyak korban di kedua pihak, sampai para pemuka Calabar lainnya turun tangan. Mereka mengirim orang-orang Egbo dengan genderang mereka, dan akhirnya pertempuran berhenti.
Tiga hari kemudian diadakan sidang besar. Kedua saudara itu diminta menjelaskan persoalannya. Barulah saat itu masing-masing mendengar apa yang sebenarnya dikatakan yang lain, dan semua orang melihat siapa yang menyulut perkara itu. Para pemuka menjatuhkan hukuman mati kepada Ama Ukwa dan menolak tebusan besar yang ditawarkan ayahnya.
Ayam jago itu juga menanggung akibatnya. Ekpo diperintahkan menyembelihnya, agar tak lagi menjadi sumber perselisihan. Sejak itu keluarlah aturan bahwa tak seorang pun boleh memelihara ayam jago atau binatang jinak lain sebagai kesayangan.
💖 Pesan Moral
- Tanyakan langsung kepada orangnya. Dua kota berperang karena dua saudara tak pernah berbicara tatap muka.
- Waspadai pembawa kabar yang selalu membawa api. Orang yang rajin bolak-balik memanaskan suasana biasanya punya kepentingan.
- Perkara kecil tidak pernah kecil bila ada yang mau meniupnya. Seekor ayam di meja makan bisa berakhir di medan perang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Calabar, Nigeria, yang dicatat Elphinstone Dayrell dalam Folk Stories from Southern Nigeria (1910).