Petani dan Ular Beku
Ular yang dihangatkan di dalam rumah sudah pulih dan bergerak di dekat kaki penolongnya. Gambar: Author Jean de La Fontaine Illustrator Percy James Billinghurst · Public domain · sumber
Salju turun sejak malam, dan pagi itu ladang tampak putih sepanjang mata memandang. Seorang petani berjalan pulang sambil merapatkan mantelnya. Di tepi jalan setapak, kakinya hampir menginjak sesuatu yang panjang dan gelap.
Ia berhenti. Itu seekor ular berbisa. Tubuhnya kaku seperti seutas tali yang membeku, matanya terbuka, tidak bergerak sedikit pun. Petani itu menyentuhnya dengan ujung tongkat. Tak ada reaksi. Hanya sangat samar, ia melihat lambung ular itu masih naik turun.
Ia tahu makhluk apa yang ada di depannya. Sejak kecil ia diajari untuk menjauhi ular seperti itu. Tetapi pagi itu begitu dingin, dan makhluk itu tampak begitu tak berdaya.
“Kasihan,” gumamnya. “Sebentar lagi kau mati. Apa salahnya aku menolong?”
Ia berjongkok dan memungut ular itu dengan kedua tangannya. Tubuh ular itu dingin seperti besi. Petani membuka mantelnya, meletakkan ular itu di dadanya, lalu menutup mantel rapat-rapat agar hangat tubuhnya meresap. Sambil berjalan, ia bahkan merasa senang. Ada satu nyawa yang akan selamat karena dirinya.
Sedikit demi sedikit, kehangatan itu bekerja. Otot-otot ular yang kaku mulai melemas. Ekornya bergerak. Kepalanya terangkat perlahan di dalam gelap, dan lidahnya mulai mencicipi udara.
Petani merasakan gerakan itu dan tersenyum.
“Nah, kau sudah sadar rupanya.”
Saat itu juga ular itu menggigit.
Rasa sakit menjalar dari dadanya ke seluruh tubuh. Petani terhuyung, membuka mantelnya, dan menjatuhkan diri di atas salju. Ular itu meluncur turun dan merayap pergi tanpa menoleh. Racunnya bekerja cepat. Kakinya tak lagi bisa diangkat, dan ia tahu ia tidak akan sampai ke rumah.
Terbaring di tepi jalan yang sama, ia memandang jejak berkelok yang ditinggalkan ular itu di salju. Ia tidak mengutuk. Kata-kata terakhirnya ditujukan kepada dirinya sendiri.
“Pantaslah aku menerima ini,” katanya lirih, “karena aku telah mengasihani makhluk yang sejak awal kutahu jahat.”
💖 Pesan Moral
- Kasih sayang perlu disertai akal sehat. Niat baik tidak mengubah sifat dasar makhluk yang ditolong.
- Menolong tidak harus berarti mendekap. Ada cara membantu yang tetap menjaga jarak aman, dan itu sah-sah saja.
- Jangan abaikan peringatan yang sudah lama kauketahui hanya karena yang berbahaya sedang terlihat lemah.
- Waspadai orang yang pernah menunjukkan niat jahatnya. Kesulitan bisa membuatnya tampak jinak untuk sementara, belum tentu mengubahnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Farmer and the Viper” (Indeks Perry 176). Fabel ini menjadi sumber ungkapan Eropa tentang “memelihara ular di dada”; La Fontaine menulis salah satu variasinya dengan judul “Le Villageois et le Serpent”.