Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Hendak ke Selatan, Kereta ke Utara (南辕北辙)

3 menit baca

Kereta perunggu dari makam Qin Shi Huang, gambaran kereta kuda Tiongkok kuno. Gambar: Gary Todd from Xinzheng, China · CC0 · sumber

Raja negeri Wei punya rencana besar. Ia ingin menyerang Handan, ibu kota negeri Zhao. Pasukannya sedang disiapkan, dan persediaan ditimbun. Kabar itu sampai kepada Ji Liang, seorang menterinya yang sedang berada dalam perjalanan.

Ji Liang langsung berbalik di tengah jalan. Ia bahkan tidak sempat merapikan pakaiannya yang kusut atau membersihkan debu di kepalanya. Dengan keadaan seperti itu ia menghadap raja.

“Hamba baru saja melihat sesuatu yang aneh, Baginda,” katanya. “Di jalan raya tadi, hamba bertemu seseorang yang memacu keretanya ke arah utara. Ia berkata kepada hamba, ‘Saya hendak ke negeri Chu.'”

Raja mengerutkan kening. Chu terletak jauh di selatan. Ji Liang melanjutkan.

“Hamba bertanya, ‘Tuan hendak ke Chu, mengapa menuju utara?’ Ia menjawab, ‘Kuda saya bagus.’

“Hamba berkata, ‘Kuda Tuan memang bagus, tetapi ini bukan jalan ke Chu.’ Ia menjawab, ‘Bekal saya banyak.’

“Hamba berkata lagi, ‘Bekal Tuan memang banyak, tetapi ini tetap bukan jalan ke Chu.’ Ia menjawab, ‘Kusir saya sangat mahir.'”

Ji Liang berhenti sejenak dan menatap rajanya.

“Baginda, semua kelebihan orang itu justru akan membawanya makin jauh dari Chu.”

Raja diam. Ji Liang tahu raja mulai menangkap maksudnya, dan ia menyelesaikan kalimatnya dengan hati-hati. Baginda ingin menjadi pemimpin yang dihormati semua negeri di bawah langit, katanya. Namun Baginda mengandalkan besarnya negeri dan kuatnya pasukan untuk merebut Handan demi memperluas wilayah dan mengangkat nama. Makin sering Baginda melakukan hal itu, makin jauh Baginda dari cita-cita tersebut, seperti orang yang hendak ke Chu sambil menuju ke utara.

Kisah ini tercatat dalam Zhan Guo Ce, kumpulan kisah para penasihat di Zaman Negara-negara Berperang. Dari sana lahir ungkapan nan yuan bei zhe, yang secara harfiah berarti gandar kereta ke selatan, jejak rodanya ke utara. Orang Tionghoa memakainya untuk menggambarkan tindakan yang berlawanan dengan tujuannya sendiri.

Yang membuat cerita ini tetap tajam adalah jawaban si pengendara. Ia tidak bodoh dan tidak miskin. Kudanya memang bagus, bekalnya memang banyak, kusirnya memang mahir. Ia menjawab setiap pertanyaan tentang arah dengan memamerkan kecepatan. Ia terus melaju dengan penuh keyakinan, dan justru keyakinan itu yang membuatnya tidak mau berhenti untuk melihat ke mana ia sedang pergi.

💖 Pesan Moral

  • Arah lebih penting daripada kecepatan. Berlari kencang ke arah yang salah hanya mempercepat kesesatan.
  • Kelebihan tidak menolong jika tujuannya keliru. Modal besar dan tim hebat bisa memperbesar kerugian.
  • Jangan menjawab kritik dengan daftar keunggulan. Orang yang menanyakan arah tidak sedang meragukan kudamu.
  • Nasihat yang baik memberi ruang untuk mengerti sendiri. Ji Liang tidak membantah rajanya, ia hanya bercerita.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Zhan Guo Ce (Siasat Negara-negara Berperang), bagian tentang negeri Wei, Tiongkok.