Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Rubah dan Bangau

3 menit baca

Sup di piring datar: jamuan rubah untuk bangau. Ilustrasi Paul Bransom (1921). Gambar: Paul Bransom · Public domain · sumber

Seekor rubah terkenal suka mengerjai hewan-hewan lain. Ia senang melihat orang lain kebingungan, lalu menertawakannya diam-diam.

Suatu hari, ia bertemu dengan seekor burung bangau di tepi rawa. Bangau itu berkaki panjang, berleher jenjang, dan berparuh panjang lancip. “Sahabatku Bangau,” kata rubah dengan senyum lebar, “datanglah makan malam di rumahku besok. Aku akan memasak sup yang paling lezat untukmu.”

Bangau merasa tersanjung dan menerima undangan itu dengan senang hati.

Keesokan harinya, bangau datang tepat waktu. Aroma sup tercium harum dari dapur rubah. Perut bangau berbunyi karena lapar. Rubah mempersilakannya duduk, lalu menghidangkan sup itu.

Tetapi sup itu disajikan di atas piring yang datar dan dangkal.

Rubah dengan mudah menjilati supnya sampai bersih. Sementara itu, bangau berusaha sekuat tenaga. Ia mematuk-matuk piring itu, memiringkan kepalanya ke sana kemari, tetapi paruhnya yang panjang dan runcing tidak bisa menyendok sup dari piring yang datar. Yang ia dapat hanya ujung paruh yang basah.

“Ada apa, Bangau? Supnya tidak enak?” tanya rubah pura-pura prihatin, sambil menahan tawa. “Kalau kamu tidak mau, biar aku yang menghabiskannya.” Dan ia pun menjilat piring bangau juga.

Bangau tidak marah. Ia hanya tersenyum sopan. “Terima kasih atas jamuannya,” katanya. “Sekarang izinkan aku membalas kebaikanmu. Datanglah makan malam di rumahku minggu depan.”

Seminggu kemudian, rubah datang ke rumah bangau dengan perut kosong, karena ia sengaja tidak makan seharian supaya bisa makan sebanyak-banyaknya. Dari dapur tercium aroma ikan dan daging yang lezat sekali.

Bangau menghidangkan makanan itu di dalam dua buah kendi kaca yang tinggi dengan leher yang panjang dan sempit.

Bangau memasukkan paruhnya yang panjang ke dalam kendi dan makan dengan nikmat. Rubah mencoba memasukkan moncongnya, tetapi leher kendi terlalu sempit. Ia menjilat-jilat bibir kendi, mengendus-endus, bahkan mencoba memiringkannya, tetapi tidak berhasil. Ia hanya bisa mencium aroma makanan yang tidak bisa ia cicipi.

Bangau menatapnya dengan tenang. “Kenapa, Rubah? Kamu tidak suka masakanku?”

Rubah terdiam. Wajahnya memerah. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi, dan ia tahu ia tidak punya hak untuk mengeluh.

“Aku hanya memperlakukanmu seperti kamu memperlakukanku,” kata bangau lembut. “Semoga lain kali kamu ingat bagaimana rasanya.”

Rubah pulang dengan perut lapar. Sepanjang jalan, ia memikirkan piring datar dan sup yang dulu ia tertawakan.

💖 Pesan Moral

  • Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.
  • Siapa yang suka mempermainkan orang, suatu hari akan merasakan hal yang sama.
  • Kebaikan sejati memperhatikan kebutuhan orang lain, bukan hanya kenyamanan diri sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Rubah dan Bangau”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Renard et la Cigogne”.