Edison dan Api yang Melahap Laboratoriumnya
Kebakaran kompleks laboratorium dan pabrik Edison di West Orange, 1914. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Malam itu, 9 Desember 1914, langit di atas kota West Orange, New Jersey, Amerika Serikat, berubah merah. Kompleks laboratorium dan pabrik milik Thomas Alva Edison, penemu yang namanya dikenal di seluruh dunia, dilalap api.
Kebakaran bermula di sebuah gedung tempat film diperiksa dan dikemas. Film pada masa itu sangat mudah terbakar, dan bahan-bahan kimia yang tersimpan di sekitarnya membuat api menjalar cepat dari satu bangunan ke bangunan lain. Petugas pemadam kebakaran dari beberapa kota berdatangan, tetapi air dan tekanan pompa tidak cukup untuk menjinakkan kobaran yang begitu besar.
Kerugiannya sangat besar untuk ukuran zaman itu, sekitar sembilan ratus ribu dolar, dan hanya sebagian kecil yang ditanggung asuransi. Bertahun-tahun hasil kerja, peralatan, dan catatan ikut hangus. Saat itu Edison sudah berusia 67 tahun, usia ketika banyak orang mulai memikirkan masa pensiun.
Charles Edison, putranya yang saat itu berusia 24 tahun, kemudian menceritakan apa yang ia saksikan malam itu. Ia berlari mencari ayahnya di tengah kekacauan, khawatir sang ayah terpukul dan putus asa. Ternyata ia menemukan Edison berdiri tenang menyaksikan api, wajahnya diterangi cahaya kobaran.
Menurut penuturan Charles, ayahnya justru berkata, “Charles, cepat panggil ibumu dan teman-temannya. Mereka tidak akan pernah lagi melihat kebakaran seperti ini seumur hidup mereka.”
Charles mengira ayahnya terguncang. Tetapi keesokan paginya, sambil memandang reruntuhan yang masih berasap, Edison berkata kurang lebih begini: “Ada nilai besar dalam sebuah bencana. Semua kesalahan kita ikut terbakar. Syukurlah, kita bisa memulai lagi dari awal.”
Surat kabar The New York Times yang memberitakan kebakaran itu juga mencatat ucapan Edison yang senada: ia memang sudah 67 tahun, tetapi belum terlalu tua untuk memulai lagi dari awal. Ia bahkan menyatakan akan segera membangun kembali.
Dan ia menepati kata-katanya. Edison tidak membuang waktu untuk meratap. Ia segera mengorganisasi para pekerjanya untuk membersihkan puing, menyewa peralatan, dan mengatur ulang produksi. Dalam waktu yang relatif singkat, pabrik-pabriknya kembali beroperasi, dan bisnisnya terus berjalan selama bertahun-tahun sesudahnya.
Edison dikenal sebagai orang yang sangat akrab dengan kegagalan. Ia terbiasa mencoba ribuan bahan dan cara sebelum menemukan yang berhasil. Baginya, kegagalan bukan akhir, melainkan informasi tentang apa yang tidak berhasil. Malam kebakaran itu memperlihatkan bahwa sikap itu bukan sekadar ucapan; ia benar-benar menghidupinya, bahkan ketika sebagian hasil kerja hidupnya berubah menjadi abu.
Tidak semua orang bisa menyikapi musibah seperti Edison. Kehilangan tetaplah menyakitkan, dan wajar bila kita berduka. Tetapi kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap reruntuhan selalu ada kesempatan untuk membangun sesuatu yang baru.
💖 Pesan Moral
- Musibah bisa menjadi titik awal yang baru, bukan hanya akhir dari sesuatu.
- Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi, berapa pun usia kita.
- Sikap kita terhadap kehilangan menentukan apa yang bisa kita bangun sesudahnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari peristiwa nyata kebakaran kompleks laboratorium dan pabrik Thomas A. Edison di West Orange, New Jersey, pada 9 Desember 1914, berdasarkan pemberitaan The New York Times (10 Desember 1914) dan kenangan putranya, Charles Edison. Kutipan disampaikan secara bebas.