Birbal dan Tongkat yang Tumbuh
Kaisar Akbar di tengah istananya, dalam lukisan miniatur Mughal. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber
Pagi itu istana Kaisar Akbar gempar. Cincin kesayangan sang kaisar hilang. Terakhir kali ia melihatnya sebelum tidur, dan ketika bangun, cincin itu sudah tak ada. Lemari dibongkar, kasur dibalik, karpet digulung, dan hasilnya nihil.
“Tak ada orang luar yang bisa masuk ke sini,” kata Akbar dengan geram. “Pasti salah seorang pelayan yang mengambilnya.”
Dipanggillah Birbal. Ia mendengarkan semuanya dengan wajah tenang, seolah-olah sedang mendengar kabar cuaca.
“Kumpulkan semua pelayan di balairung, Paduka,” katanya. “Dan tolong siapkan tongkat kayu yang sama panjang, satu untuk setiap orang.”
Para pejabat saling berpandangan. Sang kaisar sudah terlalu sering melihat Birbal berbuat aneh, sehingga ia menyuruh saja orang melaksanakannya.
Sore harinya, semua pelayan istana berbaris, mulai dari juru masak, pembersih lantai, sampai penjaga pintu. Mereka berkeringat. Birbal berjalan menyusuri barisan itu, memberikan tongkat kepada setiap orang, satu per satu. Ia sendiri telah memastikan bahwa semua tongkat itu persis sama panjangnya.
Lalu ia berdiri di tengah, mengangkat tangan, dan berbicara dengan suara rendah penuh rahasia.
“Dengarkan baik-baik. Ini tongkat ajaib, dari seorang pertapa yang sakti. Malam ini, simpanlah tongkat kalian di samping tempat tidur. Tongkat itu tahu siapa yang mencuri cincin Paduka. Besok pagi, tongkat milik si pencuri akan tumbuh dua jari lebih panjang daripada yang lain.”
Kerumunan itu mendesah gemetar. Beberapa orang memegang tongkatnya seperti memegang ular. Birbal menyuruh mereka bubar, dan ia sendiri pulang untuk tidur nyenyak.
“Birbal,” kata Akbar sebelum ia pergi, “sejak kapan engkau percaya pada tongkat ajaib?”
“Hamba tidak percaya, Paduka,” jawab Birbal. “Yang penting ada seseorang yang percaya.”
Malam itu, di sudut kamar para pelayan, seseorang tak bisa memejamkan mata. Ia memandang tongkat di tangannya. Ia mengukurnya dengan jari. Belum tumbuh, tetapi bagaimana kalau ia tumbuh saat ia tertidur? Ia membayangkan tongkatnya memanjang di tengah malam, dan ia berkeringat dingin.
Lalu ia mendapat gagasan yang menurutnya sangat cerdas. Kalau tongkat itu akan tumbuh dua jari, tinggal dipotong dua jari lebih dulu! Besok pagi panjangnya pasti sama dengan yang lain. Ia mengambil pisau, memotong ujung tongkatnya dengan hati-hati, lalu tidur dengan tersenyum.
Keesokan paginya, para pelayan berbaris lagi di balairung. Birbal berjalan perlahan sambil memeriksa tongkat mereka. Satu sama panjang, dua sama panjang, tiga, empat, semuanya sama, tepat seperti kemarin.
Sampai ia tiba di hadapan seorang pelayan yang tongkatnya tepat dua jari lebih pendek daripada yang lain.
Birbal mengambil tongkat itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Paduka, inilah satu-satunya tongkat di istana ini yang berubah dalam semalam.”
Pelayan itu memandang tongkat di tangan Birbal, lalu tongkat di tangan teman-temannya. Wajahnya pucat. Ia jatuh berlutut, mengakui segalanya, dan cincin itu pun kembali ke jari sang kaisar.
💖 Pesan Moral
- Rasa bersalah adalah saksi yang paling cerewet. Hanya orang yang menyimpan sesuatu yang perlu takut pada sebatang kayu.
- Kebenaran kadang muncul ketika pelakunya terlalu berusaha menutupinya.
- Bagi yang suka mengakali: sebelum memotong tongkat, pastikan dulu tongkat itu memang bisa tumbuh.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat Akbar dan Birbal, salah satu versi. Dalam versi lain, barang yang hilang adalah harta seorang saudagar.