Putri Hijau dari Deli
Rumah kecil di halaman Istana Maimun, Medan, tempat Meriam Puntung disimpan. Gambar: Astari28 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Setiap menjelang senja, orang-orang di tanah Deli melihat cahaya hijau naik dari taman belakang istana. Cahaya itu memanjat udara, menembus awan, lalu berpendar jauh di langit. Rakyat tidak heran. Mereka tahu cahaya itu datang dari putri bungsu almarhum sultan, yang sedang duduk merenung dan berdoa di antara pepohonan. Karena itulah ia dipanggil Putri Hijau.
Sang putri punya dua kakak, Mambang Yazid dan Mambang Khayali. Sebelum wafat, ayah mereka hanya meninggalkan satu pesan: tetaplah saling menjaga. Mambang Yazid naik takhta dan memerintah dengan adil, sementara Putri Hijau kerap membantunya mencari jalan keluar dari urusan kerajaan. Rakyat mencintai ketiganya.
Cahaya hijau itu terlihat sampai jauh ke utara. Sultan Aceh yang heran mengirim orang-orangnya untuk mencari tahu asalnya. Ketika mereka pulang membawa kabar tentang seorang putri yang cantik dan bijak, ia segera mengutus rombongan peminang dengan seserahan perhiasan.
Mambang Yazid menerima para utusan dengan hormat, tetapi lamaran itu ditolak. Di Aceh, penolakan tersebut dirasakan sebagai penghinaan. Sultan murka, dan armada pun berlayar menuju Deli.
Perang berlangsung berhari-hari, dan pasukan Deli makin terdesak. Pada suatu malam, Mambang Yazid menemui adiknya.
“Jangan bersedih, Dinda. Kanda akan tetap menjaga, seperti pesan Ayahanda. Bila Raja Aceh menawanmu, mintalah keranda kaca, dan berbaringlah di dalamnya selama pelayaran. Sebelum kapal tiba, mintalah agar setiap rakyatnya melemparkan sebutir telur dan segenggam bertih ke laut. Itu saja.”
Ia memeluk kedua adiknya, lalu terjun ke tengah pertempuran dan menghilang.
Mambang Khayali melakukan sesuatu yang tidak pernah dilupakan orang. Dengan kesaktiannya, ia mengubah diri menjadi sebuah meriam. Meriam itu menembak tanpa henti ke arah pasukan Aceh, makin lama makin panas, sampai akhirnya larasnya patah dan terpental ke udara. Sang kakak telah memberikan semua yang ia punya, tetapi jumlah musuh terlalu banyak, dan Deli pun jatuh.
Sultan Aceh masuk ke istana dan terpana melihat sang putri. Putri Hijau menahan tangisnya, lalu mengajukan permintaan persis seperti yang dipesankan. Sultan mengabulkan semuanya.
Maka ia berlayar ke utara, terbaring di dalam keranda kaca. Ketika kapal mendekati pantai Aceh, rakyat melemparkan telur dan bertih ke laut. Sambil menangis, Putri Hijau memanggil nama abangnya.
Laut bergolak. Seekor naga raksasa muncul dari dalam air, yang dalam tutur orang Deli disebut Ular Simangombus, dan memorak-porandakan armada itu. Yang tersisa hanya keranda kaca. Naga itu membawanya turun ke dasar laut dan berubah kembali menjadi Mambang Yazid. Di sanalah, menurut cerita, istana baru sang putri berada, sementara abangnya berdiam di Selat Malaka.
Pesan terakhir sang ayah ternyata ditepati sampai habis. Satu kakak patah menjadi meriam, satu kakak meninggalkan daratan selamanya, dan tak seorang pun dari mereka melepaskan yang lain.
Potongan meriam itu kini disimpan di halaman Istana Maimun, Medan, dalam sebuah rumah kecil beratap ijuk. Orang menyebutnya Meriam Puntung. Banyak pengunjung berdiri lama di depannya. Nama sang putri pun masih dipakai untuk sebuah jalan di kota itu.
💖 Pesan Moral
- Janji kepada orang tua tidak berakhir di pemakaman. Pesan ayah mereka menentukan pilihan ketiga anak itu saat keadaan paling sulit.
- Harga diri penguasa bisa dibayar oleh rakyat. Sebuah lamaran yang ditolak semestinya selesai di meja perundingan, bukan di medan perang.
- Saudara sejati terlihat ketika keadaan runtuh. Kasih keluarga diuji saat tidak ada lagi yang bisa diharapkan darinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Melayu Deli, Sumatra Utara. Akhir kisah sang putri berbeda-beda menurut penuturnya.