Rabbi Akiva dan Tetesan Air
Sumur batu kuno. Di tempat seperti inilah Akiva bertanya siapa yang melubangi batu. Gambar: Davidbena · CC BY-SA 4.0 · sumber
Akiva sudah berumur empat puluh tahun dan belum pernah belajar apa-apa. Ia tidak bisa membaca satu huruf pun. Dalam masyarakat yang amat memuliakan ilmu, seorang lelaki seusianya yang buta huruf sudah dianggap lewat. Orang tidak mengharapkan apa-apa darinya, dan ia sendiri mungkin juga begitu.
Pada suatu hari ia berhenti di dekat sebuah sumur. Matanya tertumbuk pada sebongkah batu di bibir sumur. Permukaannya berlekuk dalam, seolah ada yang sengaja melubanginya.
“Siapa yang melubangi batu ini?” tanyanya.
Orang-orang di sekitar sumur memandangnya dengan heran. Masa ia tak tahu?
“Air yang setiap hari menetes ke atasnya,” kata mereka. “Apa kamu tidak pernah membaca kitab? ‘Air mengikis batu.'”
Sebuah batu, kerasnya seperti itu. Air, lunaknya seperti itu. Tak ada satu tetes pun yang mampu menggores batu. Akan tetapi tetes itu datang lagi esok hari, dan lusa, dan bertahun-tahun sesudahnya.
Akiva berdiri lama di depan batu itu. Lalu ia menarik kesimpulan bagi dirinya sendiri, dan kesimpulan itulah yang mengubah sejarah hidupnya.
“Jika yang lunak bisa melubangi yang keras, betapa lebih lagi kata-kata Taurat, yang keras seperti besi, pasti bisa menembus hatiku yang terbuat dari daging dan darah.”
Ia segera mencari tempat belajar. Ia menggandeng putranya, dan keduanya masuk ke sekolah anak-anak. Bayangkan pemandangan itu: seorang lelaki berjanggut empat puluh tahun duduk di antara bocah-bocah kecil, memegang sebelah papan tulis, sedangkan putranya memegang sebelah lagi. Guru menuliskan alef dan bet untuknya, dan ia mempelajarinya. Guru menuliskan huruf-huruf dari alef sampai tav, dan ia mempelajarinya. Lalu Kitab Imamat, dan ia mempelajarinya.
Ia belajar perlahan, setetes demi setetes, seperti air di bibir sumur itu. Ia terus belajar sampai seluruh Taurat dikuasainya, lalu mendatangi guru-guru terbesar pada zamannya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka berpikir.
Bertahun-tahun kemudian, nama Rabbi Akiva menjadi salah satu nama terbesar dalam sejarah para rabi. Sering ada yang mengatakan bahwa kalau bukan karena dia, sebagian besar ajaran lisan tak akan sampai kepada generasi sesudahnya. Dan semua itu berawal dari lelaki buta huruf yang mau berhenti sebentar di dekat sumur, lalu tidak malu bertanya tentang sesuatu yang dianggap semua orang sudah jelas.
💖 Pesan Moral
- Empat puluh tahun bukan terlambat. Waktu terbaik kedua untuk memulai adalah hari ini, sekalipun kita harus duduk di bangku anak-anak.
- Kekuatan yang sebenarnya ada pada pengulangan. Yang melubangi batu bukan tetes terbesar, tetapi tetes yang tidak berhenti datang.
- Jangan malu bertanya hal yang “sudah jelas”. Pertanyaan sederhana Akiva membuka hidupnya.
- Belajarlah bersama anakmu. Ayah dan anak bisa memegang papan yang sama.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Avot de-Rabbi Natan bab 6. Dalam salah satu versi, batu itu terkikis oleh tali timba dan bukan oleh tetesan air.