Bahlul Menjual Surga
Tepi Sungai Tigris dalam lukisan Abdul Qadir al-Rassam, pelukis Irak dari Baghdad. Gambar: Abdul Qadir al-Rassam (1882 - 1952) – painter (Iraqi) Born in Baghdad, Iraq. Died in Baghdad, Iraq. Details on Google Art Project · Public domain · sumber
Baghdad pada masa Harun ar-Rasyid punya istana yang megah dan seorang “orang gila” yang disayangi semua orang. Namanya Bahlul. Ia berkeliaran dengan pakaian lusuh, tidur di mana saja, dan mengucapkan hal-hal yang membuat orang tertawa lalu terdiam. Sebagian orang menganggapnya sinting. Sebagian lain curiga bahwa kegilaan itu cuma baju yang ia pakai.
Suatu hari, Zubaidah, permaisuri Harun ar-Rasyid, lewat bersama rombongannya di tepi sungai. Ia melihat Bahlul berjongkok di tanah, sibuk membuat petak-petak kecil dan menatanya dengan sungguh-sungguh, seperti anak yang bermain.
“Sedang apa kamu, Bahlul?” tanya sang permaisuri.
“Aku sedang membuat surga,” jawabnya tanpa mengangkat kepala.
Para dayang menahan tawa. Zubaidah tidak ikut tertawa. Ia tahu cara Bahlul berbicara.
“Apakah kebun surgamu itu dijual?”
“Dijual.”
“Berapa harganya?”
“Seratus dinar.”
Tanpa menawar, Zubaidah menyuruh pelayannya menyerahkan seratus dinar. Bahlul menerima uang itu, menawarkan tanda terima, lalu bangkit dan pergi. Tak lama kemudian, seluruh uang itu sudah habis ia bagikan kepada fakir miskin. Kepingan terakhir pun tidak ia simpan.
Malam itu Zubaidah bermimpi. Ia berdiri di sebuah taman yang belum pernah ia lihat di dunia, dengan bangunan bertingkat yang berkilau seperti permata. Seseorang menyerahkan kepadanya selembar surat bertinta emas dan mengatakan bahwa inilah kebun yang telah ia beli dari Bahlul.
Pagi harinya ia menceritakan mimpi itu kepada suaminya. Harun ar-Rasyid mendengarkan dengan saksama. Khalifah yang menguasai negeri seluas itu tiba-tiba merasa ada satu hal yang belum ia miliki. Ia memanggil Bahlul ke istana.
Bahlul datang dengan bajunya yang biasa.
“Bahlul, aku ingin membeli kebun seperti yang dibeli permaisuriku. Sebutkan harganya. Berapa pun akan kubayar.”
Bahlul tertawa.
“Tidak bisa,” katanya. “Zubaidah membelinya tanpa melihat apa-apa, hanya karena percaya. Engkau datang setelah mendengar kabar dan menginginkan barangnya. Untuk pembeli seperti itu, kebun ini tidak dijual.”
Ia membungkuk, lalu berjalan keluar meninggalkan istana. Dalam perbendaharaan khalifah ada segala macam harta, tetapi hari itu tak satu pun bisa dipakai untuk berbelanja.
💖 Pesan Moral
- Kebaikan paling berharga dilakukan sebelum tahu hasilnya. Memberi karena sudah dijamin untung lebih mirip berdagang.
- Uang di tangan yang tepat cepat berubah menjadi manfaat. Bahlul tidak menyimpan sekeping pun untuk dirinya.
- Jangan menilai orang dari penampilannya. Orang yang ditertawakan di jalan bisa jadi yang paling jernih melihat keadaan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi kisah tradisional tentang Bahlul dari Baghdad, sezaman dengan Harun ar-Rasyid. Kisah ini hidup dalam kumpulan cerita rakyat Islam, bukan dalam catatan sejarah.