Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Serigala dan Genderang

3 menit baca

Si serigala dan genderang, dalam lukisan naskah Kalila wa Dimna, saduran Arab dari Panchatantra. Gambar: Tidak diketahui · CC0 · sumber

Tenggorokan Gomayu kering, dan perutnya sudah berhari-hari tak terisi. Serigala itu berjalan sempoyongan di tengah hutan, mengendus-endus tanah, sampai ia tiba di sebuah tanah lapang yang luas. Dulu di tempat itu dua pasukan raja pernah bertempur. Kini lapangan itu sunyi. Hanya tersisa senjata patah dan barang-barang yang ditinggalkan.

Gomayu berhenti sejenak untuk mengatur napas. Tiba-tiba terdengar suara berat yang menggetarkan udara.

Dum. Dum-dum.

Bulu kuduknya berdiri. Lututnya lemas. Suara itu lebih besar daripada suara makhluk apa pun yang pernah ia dengar.

“Celaka,” pikirnya. “Riwayatku tamat. Binatang apa yang bersuara seperti itu? Sebesar apa tubuhnya?”

Ia hampir saja lari. Namun lapar membuatnya bertahan sedikit lebih lama, cukup lama untuk mengintip dari balik gundukan tanah.

Di ujung lapangan tergeletak benda raksasa berbentuk bulat, menjulang seperti puncak bukit. Gomayu belum pernah melihat benda semacam itu. Ia mengamatinya dari kejauhan dan bertanya dalam hati, apakah suara itu datang dari dalam benda tersebut, atau ada sesuatu yang membuatnya berbunyi?

Angin bertiup. Pucuk-pucuk rumput tinggi di sekitar benda itu bergoyang dan menyentuh kulitnya. Dum. Angin berhenti, dan benda itu pun diam.

Gomayu memperhatikan hal itu beberapa kali. Setiap ada angin, ada suara. Setiap angin reda, benda itu bisu. Ia mengerti bahwa makhluk besar ini tidak bisa berbuat apa-apa sendiri. Rasa takutnya mulai surut, lalu pelan-pelan berganti menjadi rasa penasaran.

Ia merangkak mendekat, setapak demi setapak. Tidak terjadi apa-apa. Ia mengulurkan kaki dan memukul sisi benda itu. Dum! Ia melompat mundur, lalu tertawa sendiri. Ia memukul sisi yang lain. Dum!

Mata Gomayu berbinar. “Akhirnya rezekiku datang juga! Tubuh sebesar ini pasti penuh daging dan lemak.”

Ia memilih satu tempat, lalu mulai menggigit. Kulitnya tebal dan keras, dan butuh waktu lama untuk merobeknya. Beruntung giginya tidak patah. Setelah lubangnya cukup lebar, ia menjejalkan badan dan merayap masuk dengan penuh semangat.

Di dalam hanya ada gelap. Ia meraba ke kiri dan ke kanan. Yang ada hanya rangka kayu dan bagian dalam kulit yang tadi digigitnya. Tak ada daging, tak ada lemak, tak ada apa-apa selain ruang kosong.

Gomayu duduk sebentar di dalam genderang perang itu. Lalu, meski perutnya tetap kosong, ia tak bisa menahan tawa.

“Suaranya menggelegar, kukira isinya penuh. Ternyata cuma kayu dan kulit.”

Ia mundur keluar, mengibaskan tubuhnya, dan kembali berjalan mencari makan, sambil masih tertawa kecil pada dirinya sendiri.

💖 Pesan Moral

  • Jangan takut pada suara sebelum tahu sumbernya. Banyak hal yang menggentarkan hanya karena belum kita lihat dari dekat.
  • Amati dulu, baru bertindak. Gomayu selamat dari rasa takutnya karena ia berhenti dan memperhatikan kapan suara itu muncul.
  • Yang paling nyaring sering kali paling kosong. Ini berlaku bagi genderang, dan juga bagi janji serta kata-kata besar.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Serigala dan Genderang Perang” dalam Panchatantra, Buku I (Perpecahan Sahabat).