Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Dua Biksu dan Gadis di Jalan Berlumpur

2 menit baca

Hujan deras dan jalan becek, seperti hari ketika Tanzan menolong seorang gadis. Gambar: Utagawa Hiroshige · CC0 · sumber

Dua orang biksu, Tanzan dan Ekido, sedang berjalan bersama menuju sebuah kuil yang jauh. Hujan turun deras sejak pagi, dan jalan tanah yang mereka lalui berubah menjadi lumpur yang dalam.

Di sebuah persimpangan, mereka melihat seorang gadis muda yang cantik mengenakan kimono sutra dan ikat pinggang yang indah. Ia berdiri kebingungan. Ia tidak bisa menyeberang tanpa membuat pakaiannya kotor dan basah.

“Mari, Nona,” kata Tanzan tanpa ragu. Ia mengangkat gadis itu dengan kedua lengannya, membawanya melewati genangan lumpur, lalu menurunkannya di seberang dengan hati-hati. Gadis itu membungkuk berterima kasih, dan kedua biksu melanjutkan perjalanan.

Ekido diam saja. Ia tidak berkata apa-apa sepanjang sisa hari itu. Namun di dalam hatinya ada yang terus mendidih. Bukankah biksu seharusnya menjaga jarak dari perempuan, apalagi yang muda dan cantik? Bagaimana mungkin Tanzan begitu saja menggendongnya?

Langkah demi langkah, jam demi jam, pikiran itu terus berputar di kepala Ekido. Ketika malam tiba dan mereka sampai di sebuah kuil untuk menginap, ia tidak bisa menahannya lagi.

“Kita para biksu tidak boleh mendekati perempuan,” katanya dengan nada tajam. “Terutama yang muda dan cantik. Itu berbahaya. Mengapa tadi kau melakukannya?”

Tanzan menatapnya dengan tenang.

“Aku sudah menurunkan gadis itu di persimpangan tadi siang,” jawabnya. “Kau masih menggendongnya sampai sekarang?”

Ekido tidak bisa menjawab.

Tanzan hanya menggendong gadis itu beberapa langkah. Ia menolong, lalu melepaskan. Sementara Ekido, yang sama sekali tidak menyentuhnya, justru memikul gadis itu di dalam pikirannya sepanjang hari.

Begitu pula dengan banyak hal dalam hidup kita. Kata-kata tajam seseorang bertahun-tahun lalu, kesalahan kecil yang tidak kita sukai dari orang lain, kekecewaan yang sudah lama lewat. Kejadiannya hanya sebentar, tetapi kita terus menggendongnya ke mana-mana sampai pundak hati terasa berat.

Dalam versi yang lebih populer, kisah ini sering diceritakan dengan sebuah sungai sebagai ganti jalan berlumpur. Apa pun latarnya, pertanyaan Tanzan tetap sama tajamnya bagi kita semua.

💖 Pesan Moral

  • Lepaskan apa yang sudah berlalu. Beban paling berat sering bukan yang ada di tangan, melainkan yang terus kita pikul di kepala.
  • Menolong dengan hati yang bersih lebih penting daripada sibuk menghakimi niat orang lain.
  • Sebelum menegur orang lain, tanyakan dulu: apa yang sebenarnya sedang aku gendong?

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Zen tentang biksu Tanzan (1819–1892) dan Ekido, yang dikenal luas dengan judul “Muddy Road” dalam kumpulan 101 Zen Stories susunan Nyogen Senzaki dan Paul Reps.