Bulu Bantal dan Kabar Burung
Sekali bulu-bulu itu terbang, tak mungkin dikumpulkan kembali. Gambar: Hsing Wei · CC BY 2.0 · sumber
Di sebuah kota kecil di Eropa Timur, tinggallah seorang lelaki yang gemar sekali bercerita. Sayangnya, yang paling sering ia ceritakan adalah kabar burung tentang orang lain. Siapa yang berutang, siapa yang bertengkar dengan istrinya, siapa yang katanya berbuat curang. Ia tidak selalu tahu apakah ceritanya benar. Yang penting, cerita itu menarik untuk didengar.
Suatu hari ia mendengar desas-desus tentang rabi kota itu, seorang guru tua yang dihormati banyak orang. Kata orang, sang rabi tidak jujur dalam mengelola sumbangan. Tanpa berpikir panjang, lelaki itu menyebarkan cerita tersebut dari pasar ke pasar, dari rumah ke rumah, bahkan menambah-nambahkan bumbunya sendiri.
Tak lama kemudian, kebenaran terungkap. Desas-desus itu sama sekali tidak benar. Lelaki itu merasa sangat malu. Ia datang ke rumah sang rabi dan berlutut di depannya.
“Rabi, saya telah menyebarkan kebohongan tentang Anda. Saya sangat menyesal. Katakanlah apa yang harus saya lakukan agar Anda memaafkan saya. Saya akan melakukan apa saja.”
Sang rabi memandangnya lama, lalu berkata, “Pulanglah, ambil sebuah bantal bulu dari rumahmu. Bawa ke puncak bukit di luar kota. Robeklah bantal itu dan biarkan bulu-bulunya beterbangan ditiup angin. Setelah itu, kembalilah kepadaku.”
Lelaki itu heran, tetapi ia menurut. Ia membawa bantal terbaiknya ke atas bukit, merobeknya dengan pisau, dan mengibaskannya ke udara. Angin sedang bertiup kencang. Dalam sekejap ribuan helai bulu putih beterbangan ke segala arah, ke atap-atap rumah, ke ladang, ke sungai, ke jalan-jalan kota, hingga tidak terlihat lagi.
Ia kembali kepada sang rabi dengan perasaan lega. “Sudah saya lakukan, Rabi. Apakah sekarang saya sudah dimaafkan?”
“Belum,” jawab sang rabi dengan lembut. “Masih ada satu tugas lagi. Kembalilah ke bukit itu, dan kumpulkan semua bulu yang tadi kau tebarkan. Masukkan kembali ke dalam bantalmu, jangan sampai ada sehelai pun yang hilang.”
Lelaki itu terperangah. “Tapi, Rabi, itu mustahil! Bulu-bulu itu sudah terbang ke mana-mana. Ada yang tersangkut di pohon, ada yang hanyut di sungai, ada yang sudah sampai ke desa lain. Saya tidak akan pernah bisa mengumpulkan semuanya.”
“Benar,” kata sang rabi. “Begitu pula dengan kata-katamu. Kau bisa meminta maaf kepadaku, dan aku memaafkanmu. Tetapi cerita bohong yang telah kau sebarkan sudah terbang dari mulut ke mulut. Kau tidak tahu siapa saja yang sudah mendengarnya, dan kau tidak akan pernah bisa menariknya kembali dari setiap telinga.”
Lelaki itu menundukkan kepala. Sejak hari itu ia berhati-hati dengan setiap kata yang hendak ia ucapkan tentang orang lain. Sebelum bercerita, ia selalu bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini baik?
💖 Pesan Moral
- Gosip menyebar seperti bulu yang ditiup angin, cepat, luas, dan tidak bisa dikumpulkan kembali.
- Periksa dulu sebelum menyebarkan cerita, apalagi di zaman pesan berantai dan media sosial.
- Menjaga nama baik orang lain adalah bagian dari menjaga kehormatan diri sendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah rakyat Yahudi Eropa Timur yang sering dikaitkan dengan tradisi Hasidik; tokoh rabinya berbeda-beda dalam setiap versi dan asal pastinya tidak diketahui.