Scheherazade dan Seribu Malam
Scheherazade dan Sultan Syahriar, lukisan Ferdinand Keller, 1880. Gambar: Ferdinand Keller · Public domain · sumber
Raja Syahriar pernah dikenal sebagai raja yang adil. Lalu suatu hari ia mengetahui bahwa permaisuri yang ia cintai telah mengkhianatinya. Luka itu berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Ia yakin tak ada perempuan yang bisa dipercaya. Sejak itu, setiap malam ia menikahi seorang gadis, dan keesokan paginya sang gadis dihukum mati, sebelum ia sempat berkhianat.
Tiga tahun lamanya hal itu berlangsung. Rakyat menjerit. Banyak keluarga membawa lari anak-anak perempuan mereka, sampai di kota itu nyaris tak ada lagi gadis yang tersisa. Wazir yang bertugas mencarikan pengantin pulang dengan wajah kelabu, takut pada hukuman raja.
Wazir itu punya dua putri, Scheherazade dan Dunyazad. Scheherazade yang sulung bukan gadis biasa. Konon ia telah mengumpulkan seribu buku sejarah, kisah raja-raja, puisi, dan ilmu pengetahuan. Ia berkata kepada ayahnya bahwa ia punya permintaan.
“Nikahkan aku dengan raja. Aku akan selamat, atau aku akan menjadi tebusan bagi anak-anak perempuan kaum Muslimin.”
Ayahnya terkejut dan memohon dengan sangat, tetapi Scheherazade tak bisa dibujuk. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada adiknya. Nanti malam, ia akan meminta Dunyazad dipanggil. Pada saat yang tepat, adiknya harus memintanya bercerita.
Malam itu rencananya berjalan. Dunyazad memohon sepotong cerita untuk mengisi sisa malam. Raja mengizinkan. Scheherazade mulai bercerita, dan raja yang selama tiga tahun tidak mempercayai siapa pun mulai mendengarkan. Cerita itu berkembang, tokoh-tokohnya memasuki bahaya, dan tepat ketika ketegangan memuncak, cahaya fajar masuk ke jendela. Scheherazade berhenti.
Dunyazad memuji betapa indahnya cerita itu. Scheherazade berkata bahwa yang akan ia ceritakan besok malam jauh lebih menakjubkan, kalau ia masih dibiarkan hidup.
Raja berpikir, demi Allah, ia tidak akan membunuh gadis ini sebelum mendengar sisa ceritanya.
Malam berikutnya, cerita itu selesai, dan cerita baru dimulai. Di dalam cerita ada orang yang bercerita, dan di dalam cerita orang itu ada cerita yang lain. Nelayan dan jin, para pedagang, tukang pangkas yang cerewet, raja-raja, pencuri, dan pecinta. Setiap fajar selalu datang pada saat yang tidak tepat. Setiap pagi hukuman ditunda lagi, sehari demi sehari.
Tanpa disadari, sesuatu berubah di dalam diri sang raja. Lewat ratusan cerita, ia berjumpa dengan perempuan yang setia, perempuan yang cerdik, orang yang berkhianat dan orang yang berkorban. Dunia ternyata lebih luas daripada lukanya. Sementara itu, malam demi malam berlalu sampai tahun-tahun pun lewat.
Pada malam keseribu satu, setelah cerita terakhir usai, Scheherazade memohon sesuatu. Selama itu ia telah melahirkan tiga orang putra bagi sang raja. Ia membawa mereka ke hadapannya dan meminta agar nyawanya diampuni demi anak-anak itu.
Raja menangis. Ia berkata bahwa ia sudah mengampuninya sejak lama, karena ia melihat kesucian dan kecerdasan istrinya. Ia bersyukur kepada Tuhan yang telah mengutus perempuan itu untuk menyembuhkan hatinya dan menghentikan pembunuhan di negerinya.
Kota itu kembali bernapas. Tak ada pedang yang terhunus, dan tak ada pasukan yang datang. Satu gadis telah menaklukkan kekejaman dengan bahan yang paling sederhana: kata-kata, dan keberanian untuk mengucapkannya setiap malam.
💖 Pesan Moral
- Keberanian bisa datang tanpa senjata. Scheherazade masuk ke ruang yang paling berbahaya dengan bekal bacaan.
- Bacaan menyelamatkan nyawa. Setiap buku yang pernah ia baca menjadi satu malam lagi untuk hidup.
- Orang yang terluka tidak disembuhkan dengan debat. Hatinya perlu didampingi dan diajak melihat dunia yang lebih luas, sedikit demi sedikit.
- Rencana besar butuh sekutu kecil. Tanpa Dunyazad, cerita pertama itu tidak akan pernah dimulai.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah bingkai Seribu Satu Malam.