Hakim Kelinci dari Kamboja
Pohon raksasa di Ta Prohm, Angkor. Orang Khmer percaya pohon-pohon besar bisa berpenghuni roh. Gambar: GRANDE PUFFO VCO · CC0 · sumber
Di sebuah desa Khmer tinggal sepasang suami istri yang baru menikah, dan rumah mereka berdiri tak jauh dari sebatang pohon beringin tua. Hidup mereka sederhana dan bahagia, sampai suatu hari datang perintah raja: setiap lelaki harus berangkat menjadi prajurit.
Sang suami pergi dengan berat hati. Yang tidak mereka ketahui, pohon beringin itu berpenghuni. Roh penunggunya sudah lama memperhatikan perempuan muda itu dari balik daun-daunnya, dan ia iri melihat kebahagiaan pasangan itu.
Tak lama setelah sang suami berangkat, roh itu mengambil rupanya. Wajahnya sama, suaranya sama, dan langkahnya pun sama. Ia mengetuk pintu dan berkata bahwa ia telah dibebaskan dari tugas. Sang istri memeluknya dengan gembira tanpa curiga sedikit pun.
Waktu berlalu. Pada suatu sore, suami yang sesungguhnya pulang dengan pakaian lusuh dan kaki penuh debu. Ia membuka pintu, dan di dalam rumahnya duduk seorang lelaki yang berwajah persis seperti dirinya.
“Siapa kamu?” bentaknya.
“Aku pemilik rumah ini,” jawab roh itu tenang. “Kamulah penipu.”
Sang istri berdiri di antara keduanya dan menangis, sebab ia tak bisa membedakan mereka. Warga dipanggil, tetapi tak seorang pun mampu memutuskan. Keduanya tahu nama setiap tetangga dan setiap jengkal sawah. Perkara dibawa ke hadapan para tetua dan pejabat. Mereka bertanya sampai suara mereka serak, tetapi tak ada hasilnya.
Akhirnya seseorang berkata, “Bawa saja kepada Hakim Kelinci.”
Hakim Kelinci bertubuh kecil dan suka mengunyah pisang sambil bekerja. Ia mendengar kedua lelaki itu tanpa banyak bicara. Lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan menaruhnya di atas tikar.
“Perkara ini mudah,” katanya. “Suami sejati pasti sanggup melakukan apa saja demi istrinya. Maka siapa yang dapat masuk ke dalam botol ini, dialah suami yang sah.”
Orang-orang tertawa. Suami yang sesungguhnya menatap botol itu dengan putus asa. “Mana mungkin manusia masuk ke sana? Mustahil, Tuan Hakim!”
Roh beringin tersenyum lebar. Bagi makhluk sepertinya, itu perkara sepele. Tubuhnya mengecil dan menjadi asap, lalu meluncur masuk ke leher botol. Dari dalam terdengar suaranya yang bangga, “Lihat! Akulah suaminya!”
Secepat kilat Hakim Kelinci menyumbat botol itu rapat-rapat.
“Tak ada manusia yang bisa melakukannya,” katanya kepada semua orang. “Itu sebabnya perkara ini selesai.”
Botol itu kemudian dibuang jauh, dan sepasang suami istri tadi kembali hidup bersama. Sang suami masih sering menatap pohon beringin di dekat rumahnya, tetapi daun-daunnya kini hanya bergerak ditiup angin.
💖 Pesan Moral
- Kesombongan membuka kedok. Roh itu tertangkap karena tak tahan memamerkan kehebatannya.
- Kecerdikan bisa membedakan yang tak terbedakan. Bila bukti tak ada, pertanyaan yang tepat dapat menggantikannya.
- Mengakui batas diri kadang menjadi tanda kejujuran. Suami yang asli berani berkata “mustahil”.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Khmer, Kamboja, tentang Hakim Kelinci dan roh pohon beringin.