Putri Tandampalik
Danau Tempe di Wajo, Sulawesi Selatan, daerah yang namanya terkait dengan kisah pengasingan Putri Tandampalik. Gambar: Sergey · CC BY-SA 2.0 · sumber
Kabar kecantikan Putri Tandampalik, anak Datu Luwu, sudah lama menyeberangi batas negeri. Ketika utusan Kerajaan Bone datang membawa lamaran dari pangerannya, Datu Luwu merasa bimbang. Menerima lamaran itu berarti melawan kebiasaan keluarga, sedangkan menolaknya bisa mengundang permusuhan. Selagi ia menimbang-nimbang, datang musibah yang tak disangka siapa pun.
Pada suatu pagi, kulit sang putri ditumbuhi gelembung-gelembung berbau anyir. Tabib-tabib istana dipanggil. Mereka hanya bisa menggeleng. Ramuan demi ramuan dicoba dan tak ada yang berhasil. Penyakit itu menyebar ke seluruh tubuh, dan orang mulai berbisik bahwa rakyat bisa tertular.
Datu Luwu terpaksa memutuskan sesuatu yang menghancurkan hatinya. Putrinya harus pergi, demi keselamatan negeri. Sang putri mendengar keputusan itu tanpa membantah.
“Ayah tidak membuangku,” kira-kira begitulah yang ia katakan. “Ayah sedang menjaga rakyat. Aku akan pergi dengan rela.”
Sebelum berangkat, sang ayah memberinya sebilah keris pusaka sebagai tanda bahwa ia tetap anak Luwu, ke mana pun ia pergi. Bersama para pengiring yang setia, Putri Tandampalik berlayar menjauhi rumahnya, hingga tiba di sebuah pulau yang di kemudian hari dikenal dengan nama Pulau Wajo.
Hidup di sana jauh dari kemewahan istana. Sang putri ikut bekerja, membuka lahan, dan menyemangati para pengiringnya. Lambat laun orang-orang yang tinggal bersamanya tak lagi memandangnya sebagai putri yang sakit. Mereka memandangnya sebagai pemimpin.
Suatu hari, ketika ia sedang mandi di sungai, seekor kerbau putih mendekat. Sang putri ingin menghindar, tetapi hewan itu tampak jinak. Kerbau itu menjilati kulitnya. Hal itu terjadi berulang kali, dan dari hari ke hari gelembung-gelembung di tubuhnya mengering. Akhirnya penyakit itu hilang sama sekali, dan kulitnya kembali halus.
Sang putri menangis karena syukur. Ia meminta para pengikutnya untuk tidak pernah menyakiti kerbau putih. Konon larangan itu masih dihormati sebagian keturunan mereka.
Bertahun kemudian, seorang pangeran dari Bone tersesat ketika berburu dan sampai ke permukiman di pulau itu. Ia bertemu sang putri dan langsung terpikat, bukan semata karena wajahnya. Ia melihat bagaimana orang-orang di sana menghormatinya. Ketika sang pangeran menyatakan niatnya, Putri Tandampalik tidak segera menjawab. Ia mengambil keris pusaka itu dan menyerahkannya.
“Bawalah ini ke Luwu. Kalau ayahku menerimanya, aku bersedia.”
Sang pangeran berlayar ke Luwu. Ketika Datu Luwu melihat keris yang amat dikenalnya itu, ia tahu putrinya masih hidup dan sudah sembuh. Air matanya jatuh. Ia menerima keris itu, dan sebuah lamaran yang dulu hampir tak terjawab kini dijawab dengan restu.
💖 Pesan Moral
- Kemuliaan seseorang tampak saat ia kehilangan segalanya. Tanpa istana, Tandampalik justru menemukan kemampuannya memimpin.
- Keputusan yang benar kadang menyakitkan. Datu Luwu dan putrinya sama-sama menanggung harga demi orang banyak.
- Jangan lupa berterima kasih, juga kepada makhluk yang menolong kita tanpa bisa berkata-kata.
- Restu orang tua tetap berharga. Sang putri tidak melupakan ayahnya, meskipun pernah harus meninggalkannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Luwu, Sulawesi Selatan; salah satu versi. Rincian kisahnya berbeda-beda dalam berbagai penuturan.